Manfaat dan Update Harga Rivanol Berbagai Merk

Setiap orang bisa saja mengalami luka dengan cara-cara yang tak terduga, entah karena terjatuh, tersayat, atau semacamnya. Luka yang cukup dalam biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk diobati hingga benar-benar mengering dan hilang bekasnya. Beberapa orang meyakini pengobatan luka yang benar adalah dengan menggunakan cairan alkohol atau Betadine, tetapi ada pula yang lebih percaya dengan rivanol. Tersedia dalam berbagai merk, cairan rivanol dijual di apotek dengan harga yang cukup terjangkau.

Penggunaan Rivanol untuk luka (sumber: 1minutesnews.com)
Penggunaan Rivanol untuk luka (sumber: 1minutesnews.com)

Tak sedikit orang yang masih bingung menentukan, sebaiknya bagaimana cara menyembuhkan luka yang benar. Sebab, jika Anda salah dalam menangani luka, justru bisa berisiko menimbulkan infeksi dan memakan proses penyembuhan yang lebih lama dari semestinya. Menurut dr. Jaka Suganda dari perusahaan produk kesehatan dan kecantikan, PT Beiersdorf Indonesia, alkohol memang mengandung desinfektan untuk membunuh bakteri. Namun, ketika pembuluh darah terbuka karena luka, pemberian alkohol justru dapat merusak jaringan di sekitarnya, sehingga proses penyembuhan luka pun jadi agak lama. Oleh sebab itu, Jaka Suganda lebih merekomendasikan mengobati luka dengan rivanol.

Bacaan Lainnya

Rivanol digunakan sebagai cairan antiseptik yang digunakan untuk penyembuhan dan pembersih pada luka agar tidak terjadi infeksi berkelanjutan. Rivanol mengandung zat aktif etakridin laktat yang sering digunakan dalam proses perawatan dan penyembuhan luka sayat karena memiliki sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman), terutama bakteri gram positif dan tidak bersifat iritatif pada sehingga cocok sebagai antiseptik borok bernanah, kompres, dan irigasi luka terinfeksi. Tak hanya luka basah, rivanol juga dapat digunakan untuk membersihkan luka bakar.[1]

Baca juga  Update Harga Axolotl (Blue, Leucistic, Golden, dll)

Keunggulan Rivanol

  • Dapat digunakan untuk membersihkan area uretra, kandung kemih, atau vagina.
  • Dimanfaatkan untuk membersihkan sebelum operasi.
  • Mengobati infeksi kulit.
  • Dapat digunakan untuk mengompres bengkak.

Rivanol dikenal menjadi salah satu cairan multifungsi karena sifatnya pun tidak terlalu menimbulkan dibandingkan dengan povidon iodin (yodium). Produk ini juga berbeda dari penggunaan alkohol jika masuk ke aliran darah melalui yang terluka akan berdampak kurang baik untuk kesehatan.

Komposisi Rivanol

Rivanol mengandung zat kimia Aethacridini Lactas 0.1 %.

Rivanol (youtube: Tongbos)
Rivanol (youtube: Tongbos)

Cara Penggunaan Rivanol

Rivanol umumnya digunakan untuk mengompres luka atau mengompres bisul, sedangkan povidon iodin lebih bagus untuk mencegah infeksi. Kegunaan antiseptik ini untuk membersihkan luka borok dan bernanah. Salah satu penggunaannya adalah untuk melakukan rendam duduk pada penderita bisul yang berada di dekat anus.

Rivanol digunakan apabila luka berada dalam kondisi yang tidak terlalu kotor, dengan menggunakan kasa tutup luka tersebut. Jika luka sangat kotor, sebaiknya dibersihkan dulu dengan air mengalir, sedangkan pemilihan penggunaan antiseptik adalah dengan povidon iodin. Selain cara tersebut, rivanol juga dapat digunakan dengan cara dituangkan pada kapas, lalu usapkan di bagian tubuh yang terluka. Ulangi jika perlu.

Baca juga  Update Biaya Tambal Gigi Geraham di Puskesmas dan Rumah Sakit

pemakaian rivanol sangat bergantung pada kebutuhan, biasanya dapat dipakai 2-3 kali dalam sehari sebagai obat luar. Penggunaan rivanol dapat membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan kuman pada yang terluka. Setelah daerah luka benar-benar bersih, barulah diobati.

Seperti halnya antiseptik lainnya, pengaplikasian rivanol pada luka yang terbuka biasanya akan menimbulkan sensasi perih dan sedikit panas seperti sensasi terbakar. Hal tersebut disebabkan rivanol termasuk golongan antiseptik yang mengaktifkan salah satu reseptor dalam tubuh (vanilloid receptor-1) yang dapat menciptakan rasa perih atau terbakar. Oleh sebab itu, cara pemakaiannya lebih disarankan dengan cara ditotolkan secara perlahan ke area tubuh yang terluka.

Selama ini, juga banyak yang penasaran apakah rivanol juga bisa digunakan untuk jerawat atau tidak. Namun ternyata, meskipun sifatnya mencegah pertumbuhan kuman dan membantu membersihkan luka, rivanol kurang tepat apabila digunakan untuk mengatasi jerawat. Pasalnya, sifat rivanol tidak membantu membunuh bakteri penyebab jerawat, yakni Propionibacterium acne.

Cara Penyimpanan Rivanol

Simpan di tempat yang sejuk dan kering, terlindung dari cahaya matahari. Rivanol termasuk golongan obat bebas yang boleh digunakan dan dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan obat ini, terdapat logo lingkaran hijau yang bergaris tepi hitam. Meskipun obat ini masuk ke dalam kategori aman, tetap saja tidak boleh digunakan secara sembarangan.

Baca juga  Info Terbaru Tarif Jasa Cuci Helm Sepeda Motor

Obat bebas juga memiliki kandungan racun yang dapat berbahaya bagi tubuh jika tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Rivanol (sumber: novapharin.co.id)
Rivanol (sumber: novapharin.co.id)

Harga Rivanol

Merk/ Rivanol Harga
Rivanol MEDIKA 100 ml Rp3.199
Rivanol OneMed 100 ml Rp4.289
Rivanol OneMed 300 ml Rp9.755
Rivanol Seino 100 ml Rp5.425
Rivanol Molex Ayus 100 ml Rp5.671

Jika dibandingkan penawaran sebelumnya, harga Rivanol di apotek saat ini terpantau fluktuatif. Misalnya, Rivanol OneMed 300 ml yang semula dijual seharga Rp10.310, sekarang turun menjadi Rp9.755. Berbeda dengan harga Rivanol Seino 100 ml yang justru naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.425. Anda bisa membelinya di berbagai toko obat maupun sejumlah apotek terdekat.

Efek Samping Rivanol

Perlu Anda perhatikan juga bahwa reaksi setiap orang setelah menggunakan produk tertentu bisa saja berbeda-beda. Ada yang kondisinya bisa makin membaik, ada pula yang justru memburuk. Anda perlu mencermati hasil yang Anda rasakan setelah penggunaan rivanol. Biasanya, Anda akan merasakan gatal-gatal, edema, dan juga ruam. Apabila efeknya justru membuat luka Anda semakin buruk, sebaiknya hentikan penggunaan dan berkonsultasilah dengan dokter.

[Update: Ditta]

[1] Prayogo, Yudi. 2013. Cat Lover’s Book. Jakarta: Gagas Media, hlm. 83.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *