Update Harga Sapi Simental (Anakan dan Dewasa)

Selain sapi limosin, sapi simental merupakan salah satu jenis sapi potong yang dikatakan punya kualitas unggul. hewan ternak ini bisa menembus 1,4 ton untuk jantan, sedangkan berat betina bisa menyentuh 600 hingga 800 kg, bahkan lebih. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian harga sapi simental bisa sangat tinggi, bahkan mampu mencapai angka puluhan juta rupiah per ekor.

Sapi simental (sumber: biggo.id)
Sapi simental (sumber: biggo.id)

Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan masyarakat, selain menjadi salah satu komoditas ekonomi yang mempunyai nilai yang sangat strategis. Di Indonesia sendiri, untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut, biasanya berasal dari daging unggas, daging kerbau, daging kambing dan domba, serta daging sapi. Khusus untuk daging sapi, konsumsi di dalam negeri terus meningkat setiap tahun, sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat, serta tingginya kesadaran akan pentingnya protein hewani.[1]

Bacaan Lainnya

Ciri Sapi Simental

Sebenarnya, ada banyak jenis sapi potong yang telah dibudidayakan di Tanah Air. Dari sekian jenis tersebut, salah satu yang dikatakan sebagai ras unggulan adalah sapi simental. Seperti namanya, sapi simental adalah jenis dari bangsa Bos Taurus (bangsa sapi yang menurunkan bangsa-bangsa sapi potong dan perah di Eropa) yang berasal dari Lembah Simme yang berada di Oberland Berner, Swiss.[2] Sementara itu, di Jerman dan Austria, sapi ini lebih dikenal dengan nama Fleckvieh, sedangkan di Prancis punya sebutan Pie Rouge.

Masih menurut referensi yang sama, sapi simental termasuk sapi tipe pedaging dan tipe perah, walau terkadang juga dimanfaatkan tenaganya dalam dunia pertanian. Secara umum, jenis ini memiliki warna kulit bervariasi, dari cokelat, kuning keemasan, dan putih, yang merata seluruh tubuh. Kepalanya berwarna putih pada bagian atas, mayoritas memiliki pigmen di sekitar mata untuk membantu mengurangi masalah mata jika terkena sinar matahari, memiliki tanduk, kaki berwarna putih, dan dada berwarna putih.

Secara tubuh, sapi simental memiliki berat yang memang di atas rata-rata. Pertambahan bobot badan hewan ruminansia ini dikatakan dapat mencapai 0,6 kg sampai 1,5 kg per hari. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian bobot sapi simental betina bisa mencapai angka 1.000 hingga 1.150 kg untuk yang sudah dewasa.[3] Selain memiliki yang besar, kelebihan lainnya sapi simental adalah punya persentase karkas daging yang cukup tinggi, dengan lemak yang tidak terlalu banyak.

Baca juga  Jenis dan Update Harga Popok Sweety (Semua Ukuran)

Di Indonesia sendiri, selain sapi simental yang didatangkan langsung dari Eropa, juga marak dikembangkan jenis persilangan. Di Jawa Timur misalnya, muncul kecenderungan peternak memperkenalkan sapi persilangan antara peranakan ongole (PO) dengan simental maupun limousine meskipun masih terbatas pada usaha penggemukan. Pertimbangan peternak memilih sapi persilangan adalah kemampuan penambahan badan yang cepat dan harga jual yang lebih tinggi.[4]

Kenapa pertumbuhan sapi persilangan bisa lebih tinggi, salah satunya karena munculnya sifat heterozigot yang dominan. Pada sapi PO misalnya, dengan pakan hijauan yang baik dan pakan penguat yang mencukupi, sukar untuk memberikan hasil pertumbuhan berat badan lebih dari 0,7 kg. Namun, dengan kondisi pakan yang sama untuk sapi persilangan PO dengan simental, mampu memberikan nilai pertumbuhan berat badan di atas 1 kg. Bahkan, sapi silangan PO dengan simental dikatakan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan hasil silangan PO dengan limousin.[5]

Sapi simental (sumber: pinterest)
Sapi simental (sumber: pinterest)

Pergeseran minat peternak dalam penggemukan sapi lokal ke sapi bakalan peranakan simental juga didorong sejumlah faktor lain. Peranakan sapi simental dikatakan dapat memberikan finansial yang jauh lebih besar, tersedianya bahan pakan ternak lokal yang memadai sepanjang tahun baik secara kualitas maupun kuantitas, serta adanya lomba atau kontes.[6]

Cara Memelihara Sapi Simental

Dikutip dari Jitunews.com, cara beternak sapi metal atau sapi simental pada dasarnya tekniknya sama saja dengan cara memelihara sapi yang lainnya. Namun, untuk mendapatkan hasil dan yang maksimal, maka perlu memperhatikan beberapa hal tentang manajemen pemeliharaan ternak dan tata kelola usaha ternak sapi yang baik.

Hal pertama adalah proses pembibitan. Bibit pejantan meliputi fisik, kapasitas servis, kualitas semen, dan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan sapi simental. Sementara, bibit betina yang perlu diperhatikan adalah hal yang terkait kesehatan bibit, kemiringan vulva tidak terlalu ke atas, mempunyai puting 4 buah, serta bentuk ambing relatif besar dengan bentuk yang simetris.

Baca juga  Info Cara Perawatan dan Update Harga Burung Sun Conure

Kemudian, jangan lupa untuk rutin memberikan pakan. Pakan utama untuk sapi simental antara lain hijauan rumput, -kacangan atau limbah pertanian, konsentrat onggok, dedak padi, dan ampas tahu. Sementara, pakan tambahan dapat berupa vitamin, mineral, dan urea. Jumlah tumbuhan hijau yang dapat diberikan sekitar 35 kg sampai 47 kg per hari, disesuaikan dengan badan ternak, sedangkan pemberian konsentrat bisa 2 kg sampai 5 kg per hari. Jika diperlukan, boleh menggunakan pakan tambahan dengan kisaran 30 sampai 50 gr per hari.

Kandang pun harus memenuhi syarat yang baik. Syarat kandang yang harus dipenuhi untuk kesuksesan peternakan sapi simental adalah material kandang berbahan dasar kayu atau bambu, posisi harus lebih tinggi dari tanah sekitarnya, serta memiliki saluran udara dan drainase di dalam dan luar yang baik. Ukuran kandang sapi simental biasanya 1,5 x 2 m per ekor untuk betina dewasa, 1,8 x 2 m per ekor untuk jantan dewasa, dan 1,5 x 2 m per ekor untuk anakan sapi atau pedet.

Jika kita ambil contoh di Lombok, Bali, dan Jawa Timur, hampir semua pemeliharaan sapi dikandangkan, sedangkan lahan produktif diprioritaskan untuk budidaya tanaman pangan. Pemenuhan kebutuhan pakan digunakan complete feed, sedangkan hijauan diberikan secara terbatas. Complete feed merupakan perpaduan komponen pakan penguat dan sumber serat sekaligus.

Jika Anda berminat beternak sapi simental, disarankan untuk membeli yang anakan atau pedet. Pasalnya, harga anakan sapi ini relatif lebih murah dibandingkan yang sudah dewasa. Harga sapi simental dewasa bisa mencapai angka puluhan juta per ekor. Sebagai referensi, berikut kami sajikan informasi kisaran harga sapi simental di pasaran dalam negeri pada 2022.

Sapi simental (sumber: detik)
Sapi simental (sumber: detik)

Harga Sapi Simental

Ukuran Sapi Simental Harga
Anakan Sapi Simental Rp15.000.000 – Rp20.000.000 per ekor
Sapi Simental 250 kg – 280 kg Rp19.750.000 per ekor
Sapi Simental 280 kg – 300 kg Rp20.750.000 per ekor
Sapi Simental 300 kg – 350 kg Rp22.000.000 per ekor
Sapi Simental 400 kg Rp22.500.000 per ekor
Sapi Simental 500 kg Rp27.500.000 per ekor
Sapi Simental 600 – 650 kg Rp36.000.000 per ekor
Sapi Simental 750 kg Rp45.000.000 per ekor
Sapi Simental Super 900 kg – 950 kg Rp48.500.000 – Rp65.000.000 per ekor
Sapi Simental 1 ton Rp115.000.000 per ekor
Baca juga  Info Manfaat & Update Harga Jinten per Kg di Pasaran (Hitam dan Bubuk)

Jika dibandingkan dengan tahun 2020 dan 2021 lalu, harga sapi simental tahun 2022 masih relatif stabil. Namun, untuk sapi simental dengan 400 kg saat ini harganya sedikit turun dari Rp24,8 juta menjadi Rp22,5 juta per ekor. Demikian pula untuk yang beratnya 500 kg harganya turun dari sebelumnya Rp28,5 juta, kini jadi Rp27,5 juta per ekor.

Harga sapi simental di atas kami rangkum dari berbagai sumber, termasuk beberapa situs jual beli online dalam negeri dan forum jual beli hewan ternak di media sosial. Perlu Anda ketahui bahwa harga sapi simental tersebut tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Biasanya, menjelang Hari Raya Kurban, harga binatang ini akan melonjak gila-gilaan.

[Update: Dian]

[1]Dwiyanto, K., A. Priayanti, I. Inounu. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Komoditas Peternakan Unggas, Sapi, dan Kambing-Domba. Jurnal Wartazoa, Vol. 15(1): 11-25.

[2]Talib, C. dan A. R. Siregar. 1999. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pedet PO dan Crossbrednya dengan Bos Indicus dan Bos Taurus dalam Pemeliharaan Tradisional. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Jilid I: 200-207.

[3]Sugeng, Y. B. 1996. Sapi Potong. Jakarta: Penerbit Swadaya.

[4]Sodiq, Akhmad dan Novie Andri Setianto. 2007. Kajian Pengembangan Sapi Potong: Identifikasi Ciri Sistem Produksi Sapi Potong di Pedesaan. Jurnal Pembangunan Pedesaan, Vol. 7(1): 1-8.

[5]Bestari, J., et al. 1998. Produktivitas Empat Bangsa Pedet Sapi Potong Hasil IB di Kabupaten Agam: Perubahan Badan sampai Umur 120 Hari. Prosiding Seminar Peternakan dan Veteriner Bogor 1-2 Desember 1998: 181-190.

[6]Hadi, P. U. dan N. Ilham. 2002. Problem dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, Vol. 21(4): 148-157.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.