Harga Burung Ekek Keling Jawa dan Kalimantan

No comment122 views

Bagi penggemar , terutama dan burung , pasti sudah tidak asing lagi dengan jenis ekek keling. Disebut juga ekek geling, ini adalah salah satu jenis burung yang eksotis, dengan paruh berwarna merah dan tubuh berwarna hijau (ada juga yang biru). Kerap juga disebut dengan si paruh gincu (merujuk paruhnya yang merah), burung ekek keling di pasaran bisa mencapai angka jutaan rupiah per ekor.

Ekek keling/layongan berbulu hijau (sumber: Wikipedia)

Ekek keling/layongan berbulu hijau (sumber: Wikipedia)

Dilansir dari Wikipedia, ekek geling adalah burung endemik yang memiliki habitat di dataran rendah. Burung ini biasanya dapat ditemukan di hutan montane forest atau yang lebih rendah (sub-montane) dengan ketinggian sekitar 500 meter hingga 2.000 meter dari permukaan laut. Di Jawa, burung ini sering ditemukan di kawasan Jawa Barat. Selain itu, burung ekek keling juga kerap ditemukan di wilayah Kalimantan.

Selama ini, banyak pencinta burung yang menganggap ekek keling identik dengan burung tengkek. Padahal, keduanya merupakan jenis yang berbeda. Ekek keling (Cissa thalasina) merupakan salah satu spesies dari famili Corvidae (keluarga gagak), seperti halnya cililin. Sementara, tengkek atau raja udang termasuk dalam famili Alcedinidae.

Di kalangan pencinta burung sendiri, ada dua varian ekek keling yang cukup terkenal, yaitu ekek keling Jawa dan ekek keling Kalimantan. Yang membedakan ekek geling Kalimantan dengan ekek geling Jawa adalah yang mengelilingi kornea matanya. Ekek geling Kalimantan memiliki iris mata yang berwarna putih, sedangkan ekek geling Jawa yang berukuran 32 cm didominasi hijau, berekor pendek, bersetrip mata hitam dengan iris coklat.

Secara umum, kebiasaan burung ini adalah terbang dalam kelompok kecil dan memburu serangga di hutan. Meski sering bersuara, namun agak sulit dilihat dikarenakan warna bulunya yang tersamarkan oleh hijaunya daun. Nah, ekek geling yang berasal dari Jawa inilah yang statusnya terancam punah, dengan populasi yang diketahui hanya tinggal 249 ekor.

Spesies ini sendiri terkadang terlihat menyendiri atau berpasangan pada musim kawin, dan termasuk burung yang menjaga teritorial dan sarangnya. utama ekek keling antara lain berbagai jenis serangga, kadal kecil, ular kecil, telur burung-burung kecil lainnya, dan buah-buahan. Sayangnya, agak susah membedakan ekek keling jantan dan ekek keling betina karena kemiripan warna bulunya.

Seperti disampaikan di atas, populasi ekek keling, terutama dari Jawa, memang semakin kritis. Konon, tidak sampai 250 ekor burung ini yang masih hidup di alam bebas. Sejak tahun 2001 lalu, jenis burung pemakan serangga ini hanya tercatat di empat lokasi di Jawa, yaitu Taman Nasional Merapi, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, dan hutan sekitar Bandung Selatan. Burung ini tercatat pertama kali di Sukabumi pada 1906 dan terakhir kali di hutan sekitar Bandung pada 2006.

Sayangnya, meski sudah terancam punah, hingga saat ini di Indonesia, ekek geling Jawa belum dilindungi oleh undang-undang. Karena itu, melalui Asian Song Bird Trade Summit pada tahun 2005 lalu, para ahli mendorong agar jenis-jenis prioritas, termasuk ekek geling Jawa, dapat diusulkan sebagai jenis yang dilindungi. Jenis burung ini sendiri sudah termasuk kategori kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah badan konservasi dunia IUCN akibat perdagangan.

Penangkaran Ekek Keling

Burung ekek keling peliharaan (sumber: kicaumania.com)

Burung ekek keling peliharaan (sumber: kicaumania.com)

Tingginya tingkat perburuan dan perdagangan burung ini menyebabkan beberapa ahli dan aktivis mencoba melakukan upaya penangkaran (captive breeding) untuk mempertahankan jumlah populasinya. Salah satunya adalah upaya yang dilakukan oleh Chester Zoo yang bekerja sama dengan Cikananga Wildlife Center (CWC, dulunya PPS Cikananga) sebagai member Treathened Songbird of Asia Working Group (TWASG), yang berupaya untuk merehabilitasi keberadaan burung berparuh gincu ini.

Untuk mengembangbiakkan atau menangkar burung ekek keling ini, diperlukan penangkaran yang cukup luas (model aviary), yang di dalamnya juga disediakan sebuah besek atau basket (mangkuk sarang) yang terbuat dari rotan sebagai tempat bertelur dan bersarang. Karena, terkadang burung betina akan bertelur dalam keranjang rotan tanpa terlebih dulu membuat sarang.

Burung betina bertelur sekitar 3 sampai 4 butir, dengan lama pengeraman sekitar 18 sampai 20 hari. Setelah menetas, piyik biasanya diberi makan berupa ulat Hong Kong selama 3-4 hari oleh induknya. Jadi, selama beberapa hari itulah, siapkan ulat Hong Kong sebanyak-banyaknya. Nah, setelah berumur 5 atau 6 hari, piyik bisa diberikan anak tikus yang masih merah (cindil dalam bahasa Jawa). Berikan dengan porsi 3 hingga 4 ekor selama dua atau tiga kali sehari.

Setelah berusia 12 sampai 14 hari, pakan hidup harus selalu disiapkan dalam kandang penangkaran sampai berusia sekitar 25 hari. Sebab, pada umur tersebut, anak burung sudah bisa bertengger dan keluar dari sarangnya. Pada waktu itulah bisa disapih dan kita loloh sendiri, dengan menggunakan campuran serangga dan pur basah.

Ekek keling sendiri kerap digunakan sebagai burung masteran untuk burung peliharaan semacam murai batu, cucak hijau, dan cendet. Hal ini dikarenakan tembakan ekek keling dinilai cukup keras. Meski tidak serapat kepunyaan cililin, ekek keling cukup bagus, juga apabila dinyanyikan oleh jenis-jenis lain, seperti murai batu.

Harga Ekek Keling

Meski populasinya sudah kritis, namun masih banyak pedagang atau pemilik yang menjual ekek keling. Di pasaran dalam negeri, harga burung ekek keling hijau yang sudah gacor atau berkicau berada di kisaran Rp800 ribu sampai Rp1,1 jutaan per ekor, tidak jauh berbeda dengan ekek keling Kalimantan. Harga tersebut tentunya bisa bervariasi, tergantung wilayah dan negosiasi antara penjual dan pembeli.

Baca juga  Harga Kendang Elektrik di Pasaran
loading...
author
Anak band yang gak suka nonton boyband. Sudah lama lulus dari S-1 di kampus PTN ternama. Pernah dipaksa baca berita infotainmen tiap hari sampai akhirnya memutuskan lebih suka info teknologi yang lebih sedikit gosip.

Leave a reply "Harga Burung Ekek Keling Jawa dan Kalimantan"