Update Harga Komoditas Karet di Pabrik dan Petani

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan karet. Karet merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia untuk ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Seperti komoditas lainnya, harga karet pun tidak menentu alias berfluktuasi. Jika permintaan tinggi dan stok terbatas, maka harganya bisa melambung, begitu pula sebaliknya. Harga karet di tingkat petani pun akan berbeda dengan harga pabrik.

Ban mobil berbahan karet (sumber: tyreland.ie)
Ban mobil berbahan karet (sumber: tyreland.ie)

Apa Itu Karet?

Karet merupakan polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion.

Bacaan Lainnya

Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber tersebut dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para produsen. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untuk permen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

Karet diyakini dinamai oleh Joseph Priestley, yang pada 1770 menemukan lateks yang dikeringkan dapat menghapus tulisan pensil. Ketika karet dibawa ke Inggris, Priestley mengamati bahwa benda tersebut dapat menghapus tanda pensil di atas kertas. Bermula dari riset ini, kemudian penamaan rubber diberlakukan dalam Bahasa Inggris.

Di tempat asalnya, di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, karet telah dikumpulkan sejak lama. Peradaban Meso-Amerika karet dari Castilla elastica. Sementara, orang Amerika Tengah kuno menggunakan bola karet dalam permainan mereka. Menurut Bernal Diaz del Castillo, Conquistador Spanyol sangat kagum terhadap pantulan bola karet orang Aztec dan mengira bahwa bola tersebut dirasuki roh setan.

Di Brasil, orang lokal membuat baju tahan air dari bahan karet. Sementara, sebuah cerita juga menyatakan bahwa orang Eropa pertama yang kembali ke Portugal dari Brasil dengan membawa baju anti-air tersebut menyebabkan orang-orang terkejut sehingga ia dibawa ke pengadilan atas tuduhan melakukan ilmu gaib.

Manfaat Karet

Layaknya komoditas lainnya, karet juga memiliki berbagai macam manfaat bagi kebutuhan sehari-hari maupun sektor industri. Karet adalah bahan utama pembuat ban, beberapa alat kesehatan, serta alat-alat yang memerlukan kelenturan dan tahan guncangan. Di beberapa tempat, salah satunya perkebunan karet di Jember, biji karet bisa dijadikan camilan yang memiliki rasa gurih dengan proses tertentu, meski tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena terkadang membuat kepala pusing.

Panen getah karet pada batang (sumber: videoblocks.com)
Panen getah karet pada (sumber: videoblocks.com)

Pertumbuhan Karet di Indonesia

Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang konstan sekitar 26 derajat Celcius sampai 32 derajat Celcius dan lingkungan yang lembap supaya dapat berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara, tempat sebagian besar karet dunia diproduksi. Sekitar 70 persen dari produksi karet global berasal dari Thailand, Indonesia, dan Malaysia.

Pohon karet sendiri memerlukan waktu sekitar tujuh tahun untuk mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini, maka penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.

Tanaman karet banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama di Pulau Sumatera, dan juga di pulau lain yang diusahakan baik oleh perkebunan negara, swasta, maupun karet rakyat. Dalam skala yang lebih kecil, perkebunan karet bisa ditemui pula di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur.

Menurut data pada tahun 2014, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara produsen karet alam, di bawah Thailand. Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980-an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet negara ini, kira-kira 80 persen, diproduksi oleh para petani kecil. Oleh karena itu, perkebunan pemerintah dan swasta memiliki peran yang kecil dalam industri karet domestik.

Total luas perkebunan karet di Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. Di tahun 2015 lalu, perkebunan karet Tanah Air mencapai luas total 3,65 juta hektare, yang tersebar di berbagai provinsi, seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Karena prospek industri karet yang positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan komoditas seperti kakao, kopi dan teh, menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet.

Sekitar 85 persen dari produksi karet di Indonesia diekspor ke beberapa negara lainnya, dengan setengah dari produksi dijual ke negara-negara di kawasan Asia, diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, dan Brasil. Sementara itu, konsumsi karet dalam negeri kebanyakan diserap oleh industri manufaktur, terutama sektor otomotif.

Produksi Karet Gelang - (www.liputan6.com)
Produksi Karet Gelang – (www.liputan6.com)

Harga Karet Dunia

Menurut data tanggal 20 Januari 2023, dilansir dari Trading Economics, harga karet dunia saat ini merosot 0,14 persen dibandingkan tahun lalu menjadi USD 141,10 cent dolar per kg. Harga tersebut juga terpantau turun dari dua hari sebelumnya, tepatnya tanggal 18 Januari 2023 yang tercatat sebesar USD 143,20 cent per kg.

Sementara itu, berdasarkan data dari Seputar Forex, harga komoditas karet di Tokyo Commodity Exchange atau TOCOM per 18 Januari 2023 tercatat sebesar 141,30 yen per kg. Harga ini terpantau turun drastis dibandingkan capaian dua tahun lalu yang masih berada di angka 168,80 yen per kg.

Harga karet pada awal tahun 2023 ini memang terpantau terus mengalami penurunan. Di pasaran dalam negeri, menurut keterangan Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO), harga karet saat ini di tingkat petani tidak pernah beranjak dari Rp9.000 per kg. Bahkan, harga komoditas tersebut bisa lebih rendah, Rp7.000 sampai Rp8.000 per kg.

Harga Karet di Pabrik

Lalu, bagaimana dengan harga karet di tingkat pabrik? Dilansir dari Bengkulu Today, salah satu perusahaan, yakni PT Bukit Angkasa Makmur yang berada di Bengkulu Tengah mematok harga karet di pabrik sekarang berkisar Rp16 ribu per kg. Harga tersebut turun Rp1.000 dari sebelumnya Rp17 ribu per kg. Sementara itu, harga jual supplier karet berada di kisaran Rp6.000 sampai Rp7.000 per kg.

(Panca)

Pos terkait