Info Lengkap Harga Menu Ote-Ote Porong

­Saat melakukan perjalanan ke daerah Surabaya atau Sidoarjo, rasanya belum jika tidak membeli oleh-oleh dan mencicipi kuliner khas yang terkenal di sana. Ya, jika Anda termasuk penggemar gorengan, jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mencicipi Ote-Ote Porong yang terkenal itu. Ote-ote atau kerap disebut heci ini begitu populer karena memiliki cita rasa yang gurih dan tekstur empuk, apalagi jika disantap saat masih hangat. Harga Ote-Ote Porong berkisar mulai puluhan ribu rupiah.

Ote ote porong (sumber: dailyhotels.id)
Ote ote porong (sumber: dailyhotels.id)

Tentang Ote-Ote Porong

Kalau belum pernah mencicipi ote-ote sebaiknya mampirlah ke tempat ini. Selain ote-ote, ada juga bak cang, hiwan, bakpao, siomay, dan kekian. Semuanya bisa dipesan untuk oleh-oleh atau dimakan saat di perjalanan.

Bacaan Lainnya

Porong yang ada di Jawa Timur menjadi kondang karena lumpur Lapindo. Memang asal ote-ote ini dari aslinya di Porong. Terlebih lagi lokasi penjualan ote-ote yang ada di sana sejak 1960 ini di Jl. Raya Porong no. 120 atau persis di depan Pasar Porong. Maka tak usah jauh-jauh melintasi lokasi lumpur Lapindo untuk bisa mencicipi ote-ote yang hangat. Cukup mampir ke tempat ini saja.

Ote-ote tak lain adalah bakwan yang terbuat dari tepung terigu dengan isian udang dan tiram yang dicincang halus. Bakwan ini dicetak besar, diameternya 12 cm dengan bentuk cembung. Bakwan ini digoreng kering dengan tampilan yang sangat menggiurkan. Dijamin mantap menyantap satu biji saja. Rasa gurih renyah menjadi makin enak dengan gigitan cabai rawit segar untuk mengiringinya.

Selain ote-ote, di tempat ini Anda (khusus yang memakan daging babi) bisa memesan siomay yang dibuat dari campuran daging babi dan udang, atau yenbici, dumpling yang panjang kecil dengan isian udang dan daging babi.

Pilihan lainnya masih banyak, ada bakcang, bakpao aneka isi, dan kekian. Kekian atau meatloaf gaya Cina ini berbentuk silinder seperti lontong. Dibuat dari adonan daging ayam dan babi dan dibungkus kulit tahu, kemudian dikukus dan digoreng. Paling pas disantap dengan cocolan sambal cabai cuka.[1]

Pihak Ote-Ote Porong juga menegaskan bahwa semua produknya dibuat baru setiap hari. Semua produk Ote-Ote Porong tidak mengandung minyak babi. Kemudian, semua proses dan alat selama persiapan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, serta pencucian antara produk halal dan non-halal dilakukan secara terpisah, sehingga diklaim aman bagi konsumen dari kalangan Muslim.

Ote-Ote Porong dijual bijian dengan harga mulai puluhan ribu rupiah, tergantung isiannya. Sedangkan menu selain ote-ote dijual dengan kisaran harga ribuan hingga puluhan ribu rupiah. Biasanya para konsumen membeli Ote-Ote Porong dalam banyak untuk dijadikan oleh-oleh bagi kerabat atau bahkan dikonsumsi sendiri bersama keluarga. Nah, supaya tidak penasaran, simak informasi daftar harga menu Ote-Ote Porong yg Asli berikut ini!

Harga Ote-Ote Porong

Ote ote porong (sumber: shopee)
Ote ote porong (sumber: shopee)
Menu Ote-Ote Porong yg Asli Harga (Rp)
Ote-Ote Porong (ayam + rumput laut + bawang) 20.000
Ote-Ote Porong (ayam + tiram + rumput laut + bawang) 23.000
Siomay (ayam + udang) 5.000
Bakpau (ayam / kacang hijau / kacang tanah) 8.000
Bakcang (ayam + telur asin) 26.000
Bakwan goreng (ayam + udang + ikan) 7.000
Getas 7.000
Ote-Ote Porong (babi + tiram + rumput laut + bawang) 23.000
Hiwan (bakso ikan isi B2) 3.000
Kekian (babi + udang) 22.000
Bakcang (babi + telur asin) 26.000
Bakcang spesial (babi + jamur + telur asin) 35.000
Yenbi (ayam + udang + ikan + kulit ada babi) 6.000
Bakpau (babi kecap manis) 12.500

Informasi harga Ote-Ote Porong yg Asli di atas kami rangkum langsung dari daftar menunya. Namun, perlu diketahui bahwa harga Ote-Ote Porong yang Asli dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Jika Anda tertarik untuk mencicipi Ote-Ote Porong yg Asli, Anda bisa langsung mengunjungi gerainya yang ada di daerah Porong, Kabupaten Sidoarjo. Warung Ote-Ote Porong yang Asli buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai jam 20.30 WIB.

[1]Winneke, O. 2010. Jalur Enak Serpong. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm 110.

Pos terkait