Info Terbaru Harga Ranitidin Injeksi di Apotek

No comment9999 views

Ranitidin adalah obat yang biasa digunakan untuk menangani gangguan yang terjadi pada perut dan usus, serta mencegah masalah tersebut kambuh setelah berhasil ditangani. Ranitidine dapat diberikan melalui mulut (oral) maupun dengan cara injeksi. Obat ini dapat Anda beli di apotek terdekat dengan harga bervariasi tergantung produk pilihan.

Ranitidin Injeksi biasanya dijadikan sebagai Pengobatan alternatif untuk pasien yang tidak dapat diterapi secara oral untuk mengobati tukak lambung dan tukak usus duabelas jari. Banyak perusahaan farmasi yang meluncurkan produk Ranitidin dalam berbagai sediaan, seperti tablet dan injeksi. Berikut ulasan lengkap kegunaan Ranitidin injeksi untuk mengatasi permasalahan pada perut dan usus.

Ilustrasi: Pria Terkena Gangguan Tukak Lambung (credit: Medical News Today)

Ilustrasi: Pria Terkena Gangguan Tukak Lambung (credit: News Today)

Indikasi Ranitidin Injeksi

  • Menurunkan kadar asam lambung yang berlebihan.
  • Menangani Gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu penyakit yang disebabkan oleh iritasi asam lambung. Penderita biasanya mengalami sensasi terbakar pada area dada dan kerongkongan.
  • Digunakan untuk menangani erosif esophagitis, meskipun dibandingkan obat-obat golongan penghambat pompa proton seperti omeprazole atau lansoprazole, efektivitasnya lebih rendah.
  • Zollinger ellison syndrome, atau penyakit langka akibat adanya tumor di pankreas atau karena usus dua belas jari melepaskan hormon yang menyebabkan kelebihan sekresi asam lambung. Saat ini obat-obat penghambat pompa proton (PPI) lebih dipilih untuk tujuan ini.
  • Untuk mengobati penyakit maag, obat-obat antagonis H2 seperti ranitidine lebih banyak dipilih dibanding antasida karena durasi kerjanya lebih lama dan efektivitasnya lebih tinggi.

Untuk kontraindikasi Ranitidin yakni tidak disarankan bagi penderita dengan riwayat porfiria akut. Anda juga tidak disarankan menggunakan Ranitidin apabila memiliki riwayat hipersensitif pada ranitidin atau obat golongan antagonis reseptor H2 lainnya.

Penggunaan Ranitidin Injeksi

Ranitidin injeksi (sumber: Tokopedia)

Pemberian ranitidin dengan cara injeksi biasanya hanya dilakukan untuk pengobatan jangka pendek. Ranitidin akan diberikan dengan disuntikkan hanya saat Anda sedang dalam posisi tidak dapat mengkonsumsi obat tersebut dengan melalui mulut (oral). Dokter Anda seharusnya akan menyarankan Anda untuk mengkonsumsi obat tersebut melalui mulut kembali saat kondisi Anda telah memungkinkan.

Sebelum memakai obat ini, ada baiknya Anda mendiskusikan kepada dokter Anda mengenai alergi yang Anda miliki, pengobatan lain yang sedang Anda jalani, gangguan kesehatan yang Anda miliki serta bila Anda sedang mengandung dan menyusui.

Ranitidin injeksi biasanya diberikan dengan menyuntikkannya melalui pembuluh darah vena maupun otot sesuai instruksi dokter. Injeksi biasanya dilakukan selama 5 hingga 20 menit dengan selang waktu setiap 6 hingga 8 jam. yang diberikan dan lama perawatannya sendiri bergantung kepada kondisi medis pasien. Pada anak-anak, selain berdasarkan kondisi medis, pertimbangan lainnya adalah berapa berat badan anak tersebut.

Sebelum penggunaan, baik di klinik maupun kediaman Anda, ada baiknya untuk Anda melakukan pengecekan kondisi kemasan lebih dahulu. Injeksi yang dilakukan oleh Anda sendiri diperbolehkan, hanya jika Anda telah yakin benar-benar memahami instruksinya sesuai dengan yang dikatakan petugas kesehatan Anda. Ada baiknya juga Anda mengetahui bagaimana cara menyimpannya dan laporkan segera ke dokter saat Anda tidak merasakan adanya perubahan selama beberapa waktu pemakaian atau justru bertambah buruk.

Dosis Ranitidin Injeksi

  • IM 50 mg (tanpa pengenceran) tiap 6-8 jam.
  • IV bolus intermiten: 50 mg (2ml) tiap 6-8 jam. Diencerkan dalam larutan NaCl 0.9% atau larutan injeksi IV lain yang cocok sampai memperoleh kadar <= 2,5 mg/ml. Kecepatan injeksi <= 4 ml/menit selama 5 menit.
  • Infus intermiten: 50 mg (2 ml) tiap 6-8 jam. Diencerkan dalam larutan Dextrose 5% atau larutan injeksi IV lain yang cocok sampai memperoleh kadar <= 0.5 mg/ml. Kecepatan infus tidak lebih 5-7 ml/menit dengan waktu 15-20 menit.
  • Infus IV kontinu: 150 mg diencerkan dalam 250 ml larutan Dextrose 5% atau larutan IV yang cocok dan diberikan via infus dengan kecepatan 6.25 mg/jam selama 24 jam.
  • Dapat dilanjutkan dengan dosis 150 mg 2 kali sehari per oral apabila telah mulai bisa makan.

Selain harus berkonsultasi dengan dokter selama menggunakan Ranitidin Injeksi, Anda juga harus memahami efek samping yang mungkin terjadi. 

Efek Samping Ranitidin Injeksi

Ilustrasi: Dokter Memegang Ampul Injeksi (credit: USA Today)

Ilustrasi: Dokter Memegang Ampul Injeksi (credit: USA Today)

Beberapa efek samping mungkin terjadi, seperti sakit kepala, sulit buang air besar hingga nyeri dan muncul kemerahan pada daerah sekitar lokasi injeksi. Hubungi segera dokter Anda bila Anda bahkan mulai mengalami peningkatan efek samping seperti penglihatan jadi buram, perubahan suasana hati, perasaan kelelahan yang amat sangat, perubahan detak jantung, nyeri pada perut, warna urine menjadi gelap dan beberapa gejala infeksi seperti demam hingga menggigil.

Reaksi alergi mungkin terjadi, namun akan sangat jarang. Gejala-gejala alergi yang biasanya terjadi seperti munculnya ruam, terasa gatal, bengkak, dan kesulitan bernapas.

Peringatan & Perhatian Penggunaan Ranitidin Injeksi

  • Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal.
  • Waspada bagi yang mengalami pendarahan, sulit menelan, muntah, dan penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
  • Ranitidin ikut keluar bersama air susu ibu (ASI), dengan konsentrasi puncak terlihat 5,5 jam setelah pemberian. Bagi wanita hamil dan menyusui, sesuaikan dengan anjuran dokter.
  • Selama menggunakan obat ini, hindari konsumsi makanan atau minuman yang dapat memperparah gejala Anda agar efektivitas obat maksimal, misalnya makanan pedas, cokelat, tomat, minuman keras, dan minuman panas, khususnya kopi. Anda juga dianjurkan untuk berhenti merokok karena merokok dapat memicu produksi asam lambung.
  • Hentikan pemakaian ranitidin jika terjadi reaksi alergi, seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya.
  • Hati-hati memberikan ranitidin untuk pasien dengan disfungsi hati.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia akhirnya mengeluarkan surat perintah penarikan obat ranitidin yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit lambung dan usus sejak awal Oktober 2019 lalu. 

Ranitidine Ditarik BPOM

Obat ranitidine terpaksa ditarik dari peredaran karena ditemukannya senyawa N-Nitrosodimetilamin yang terkandung dalam obat ranitidin oleh Badan Kesehatan Amerika FDA dan European Medicines Agency (EMA). Senyawa NDMA sendiri digadang-gadang dapat memicu penyakit kanker (bersifat karsinogen). Obat asam lambung yang memiliki kandungan senyawa NDMA tersebut kabarnya paling banyak ditemukan dalam ranitidine bentuk untuk suntikan. 

Ilustrasi: Ranitidin Injeksi (credit: Steemit)

Ilustrasi: Ranitidin Injeksi (credit: Steemit)

Setelah melakukan pengujian sampel atas obat yang sudah diedarkan sejak 30 tahun silam ini, BPOM akhirnya menarik berbagai merk obat ranitidin dari pasaran. Beberapa apotek pun kabarnya sudah menghentikan penjualan ranitidine yang mengandung NDMA. Hingga kini setidaknya sudah ada 67 batch produk obat maag dan asam lambung ranitidin yang ditarik dari peredaran (recall) oleh BPOM, antara lain:

  • Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/ml produksi PT Phapros Tbk
  • Zantac Cairan Injeksi 25 mg/ml produksi PT Glaxo Wellcome Indonesia
  • Rinadin 75 mg/5ml produksi PT Global Multi Pharmalab
  • Indoran Cairan Injeksi 25 mg/ml dan Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL produksi PT Indofarma
  • Ranitidin HCl tablet salut selaput 150 mg produksi PT Pharos Indonesia
  • Conranin tablet salut selaput 150 mg produksi PT Armoxindo Farma
  • Radin tablet salut selaput 150 mg dan Ranitidine HCl Tablet Salut Selaput 150 mg produksi PT Dexa Medica

Namun pada 20 November 2019, ada beberapa obat asam lambung ranitidin yang diizinkan beredar kembali oleh BPOM karena terbukti tidak tercemar NDMA melebihi ambang batas. Total ada sekitar 37 obat ranitidin yang dapat diedarkan kembali. Ranitidin produksi PT Hexpharm Jaya dan Dexa Medica termasuk dua obat yang beredar kembali di pasaran. Berikut ulasan harga Ranitidin Injeksi tersebut di apotik.

Harga Ranitidin Injeksi

Jenis Ranitidin InjeksiHarga (Rp)
Ranitidin HCl injeksi isi 10 ampul 25 mg/mL 30.000 per box
Ranitidine Ampul 50 mg/2 mL x 25’s Dexa Medica71.000 per box

Meski awalnya sulit dicari di berbagai apotek atau toko obat, saat ini Ranitidin injeksi di atas sudah beredar dengan harga yang relatif stabil dari penjualan 2020. Pada 2021, harga Ranitidin HCl maupun ampul masih berkisar Rp30 ribu hingga Rp71 ribu per box. Sebelumnya banyak perusahaan farmasi yang memproduksi ranitidin dalam bentuk sediaan ampul untuk keperluan penggunaan injeksi. Namun, saat ini Anda dapat membeli obat Ranitidin dalam bentuk tablet, seperti Ranitidine Dexa 150mg yang relatif terjangkau hanya Rp323 per tablet.

[Update: Ditta]

Baca juga  Info Manfaat, Cara Minum dan Update Harga Vitamata di Apotek
author
Pengamat produk dan harga komoditas. Saat ini tinggal di Kota Malang.

Leave a reply "Info Terbaru Harga Ranitidin Injeksi di Apotek"