Info Harga Blangkon Jogja

No comment84 views

Blangkon identik dengan busana masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya, blangkon tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala saja, namun juga simbol status bagi masyarakat pemakainya.

Pria memakai blangkon (sumber: berazam.com)

Pria memakai blangkon (sumber: berazam.com)

Istilah blangkon berasal dari kata ‘blangko’, dipakai untuk merujuk pada sesuatu yang siap pakai. Sebab awalnya penutup kepala ini memang tidak bisa langsung dipakai begitu saja. Melainkan diikat melalui proses pembuatan simpul yang cukup rumit. Maka dari itu diciptakanlah blangkon, penutup kepala yang siap pakai.

Blankon adalah salah satu bagian dari pakaian adat khas Jawa yang digunakan untuk penutup kepala bagi pria sebagai pelindung dari sengatan matahari atau udara dingin. Awalnya terbuat dari iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar, berukuran kurang lebih 105 cm x 105 cm. 

Kain yang kemudian dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan di kepala dengan cara dan aturan tertentu. Mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memakan waktu, maka timbullah gagasan seiring dengan kemajuan pemikiran orang dan seni untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis, yang kemudian kita kenal dengan nama blangkon.

Pada zaman dulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton dengan pakem (aturan) yang baku. Seperti halnya keris dan batik. Semakin blangkon yang dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin tinggi nilainya.

Menurut Ranggajati, seorang pembuat blangkon membutuhkan virtuoso skill atau keahlian keindahan. Keindahan blangkon, lanjut Ranggajati, selain dilihat dari pemenuhan pakem juga cita rasa sosial. Apalagi pakem blangkon sesungguhnya bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para pemakainya.

Blangkon (sumber: blangkonjogja.com)

Blangkon (sumber: blangkonjogja.com)

Secara umum, ada dua jenis blangkon, yaitu yang mempunyai mondolan (tonjolan) dan yang trepes (rata). Pada awal ikat dipergunakan sebagai tutup kepala, banyak pria Jawa yang berambut panjang sehingga harus digelung terlebih dahulu sebelum ditutup dengan iket. Gelung inilah yang kemudian mondol, menonjol, dan disembunyikan dibawah iket. 

Rambut dalam nilai filosofi orang Jawa yang sudah disebutkan diatas adalah representasi perasaan. Rambut di bawah iket adalah perasaan yang disembunyikan, yang harus dijaga rapat-rapat, menjaga perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain.

Pada perkembangannya kemudian, blangkon yang awalnya menjadi pelindung kepala yang mempunyai nilai filosofis tinggi kemudian menjadi sebuah simbol atau identitas kelompok serta status sosial dari masyarakat penggunanya. Hal ini ditandai dengan adanya wiron, jabehan, cepet, waton, kuncungan, corak dan ragam hiasnya.

Semakin tinggi nilai yang diwakili maka kelas sosial pengguna blangkon dipastikan akan semakin tinggi pula. Namun tetap saja nilai utama yang hendak disampaikan adalah bentuk pengendalian diri. Jangan sampai kepala sebagai pusat dari tindak tanduk tidak terkontrol dengan baik.

Nilai filosofis lain yang ada terlihat dari ada tidaknya mondolan. Konon mondolan adalah bentuk representasi dari orang Jawa khususnya yang suka menyembunyikan perasaan. Perasaan yang disembunyikan tersebut pada akhirnya akan muncul juga.

Masing-masing daerah memiliki blangkon dengan ciri khas yang berbeda. Tekstur dan blangkon Yogyakarta, misalnya, berbeda dari blangkon Jawa Tengah, , ataupun Jawa Barat.

Blangkon Yogyakarta

Blangkon Yogyakarta memiliki tonjolan di bagian belakang (sumber: yukepo.com)

Blangkon Yogyakarta memiliki tonjolan di bagian belakang (sumber: yukepo.com)

Blangkon gaya Yogyakarta mempunyai mondolan pada bagian belakang blangkon. Hal ini dirunut sejarah pada waktu itu laki-laki Yogya memelihara rambut panjang kemudian diikat ke atas, kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.

Mondolan di belakang juga dikaitkan dengan filosofi masyarakat Jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang Jawa.

Dapat juga diartikan masyarakat Yogya pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis. Dalam pikirannya hanyalah bagaimana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.

Blangkon Solo

Blangkon Solo tanpa tonjolan di bagian belakang (twitter: @infoseni)

Blangkon Solo tanpa tonjolan di bagian belakang (twitter: @infoseni)

Masyarakat Solo waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh Belanda, dan karena pengaruh Belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.

Blangkon gaya Surakarta tidak memiliki tonjolan di bagian belakang. Melainkan terjalin dengan mengikatkan dua pucuk helai kain di bagian kanan dan kiri. Makna blangkon dalam hal ini adalah sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gedhe (makrokosmos).

Blangkon mengisyaratkan jagad gedhe, sedangkan kepala yang ditumpanginya mengisyaratkan jagad alit. Sebab dalam peranan manusia sebagai khalifah, kita membutuhkan kekuatan Tuhan. Blangkon menyimbolkan kekuatan Tuhan yang diperlukan bila manusia ingin menjalankan tugasnya untuk mengurus alam semesta.

Karena itulah, Zaman dulu orang Jawa umum memakai blangkon. Sebab mereka sadar bahwa mereka bukan sekadar hamba Tuhan, tetapi juga khalifah yang bertugas di bumi.

Harga Blangkon Jogja

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pembeda antara blangkon Jogja dan blangkon Solo terletak pada mondolan. Benjolan yang berada di belakang kepala. Adanya mondolan pada blangkon dikarenakan kebiasaan masyarakat Jawa pada waktu itu memanjangkan rambut. Fungsi mondolan sebagai letak rambut yang diikat.

Nah jika Anda sedang berkunjung ke Kota Gudeg, tidak ada salahnya untuk membeli blangkon Jogja. Harga blangkon Jogja bervariasi sesuai dengan model dan motif. Namun biasanya dijual dengan harga yang relatif murah, berkisar antara Rp20 ribuan hingga Rp75 ribuan. Anda juga bisa membeli blangkon Jogja melalui sejumlah online yang saat ini banyak menjual blangkon Jogja. 

Baca juga  Harga Maskara Inez Cosmetics di Pasaran
loading...
author
Mengetahui harga-harga, dan mengikuti dinamikanya adalah proses mengasah kecerdasan finansial. Be Smart!

Leave a reply "Info Harga Blangkon Jogja"