Info Terkini Harga Suzuki Aerio (2002, 2003, 2004, 2005, 2006)

Demam city car berjenis hatchback mulai melanda Indonesia pada awal era 2000-an, ketika banyak pabrikan Jepang merilis kendaraan dengan model tersebut. Nah, salah satu perusahaan Negeri Sakura yang melemparkan city car ke pasar Tanah Air adalah Suzuki lewat model Aerio. Sayangnya, model ini tidak bertahan lama dan harus ‘disuntik mati’ pada tahun 2006. Sekarang, produk bekas kendaraan tersebut ditawarkan dengan harga yang cukup terjangkau.

Ilustrasi: Mobil Suzuki Aerio (credit: otoloka.id)
Ilustrasi: Mobil Suzuki Aerio (credit: otoloka.id)

Apa Itu City Car?

Saat ini, memang semakin banyak masyarakat Indonesia yang sudah memiliki mobil pribadi sebagai sarana transportasi. Secara umum, mereka membeli kendaraan roda empat untuk menikmati dua fungsi, yakni sebagai sarana untuk mengantarkan dari satu tempat ke tempat yang lain dan mengangkut barang dalam aktivitas sehari-hari, serta untuk memperoleh prestise yang akan memberikan kepuasan tersendiri.[1]

Bacaan Lainnya

Di Indonesia sendiri, sudah ada banyak varian mobil yang dapat dipilih, seperti SUV (sport utility vehicle), MPV (multi-purpose vehicle), dan mobil kota atau biasa disebut city car. Meski mungkin model MPV masih mendominasi, tetapi peminat city car juga cukup tinggi, karena kendaraan tersebut menawarkan biaya bahan bakar yang lebih irit, lincah untuk melibas jalanan perkotaan, serta punya harga relatif terjangkau.[2][3]

Seperti namanya, city car adalah kendaraan yang dibuat untuk penggunaan di dalam kota. Karena punya bentuk yang mungil, mobil ini didesain untuk lincah dan nyaman dikendarai di dalam kota dengan lalu lintas padat, mudah mencari tempat parkir, dan punya konsumsi bahan bakar yang hemat. Meski bentuknya kecil, umumnya mobil ini punya performa lebih tinggi dan tingkat keselamatan yang lebih baik dibandingkan mobil mikro.

Review dan Specs Suzuki Aerio

Tampilan dasbor dan interior Suzuki Aerio (sumber: cars-data.com)

Ada banyak city car yang sudah dilemparkan ke pasaran, salah satunya Suzuki Aerio (disebut Liana atau Life In A New Age di China, Pakistan, Eropa, Israel, Asia Selatan, Taiwan, dan Australia) yang dibangun oleh Suzuki. Mobil ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001 sebagai pengganti Suzuki Esteem atau Baleno, dengan model hatchback SX model 5 pintu yang tinggi (untuk efisiensi ruangan maksimum) dan bodi sedan 4 pintu.

Baca juga  Info Terbaru Harga Menu Kober Mie Setan

Secara umum, Aerio menampilkan dua mesin bensin, empat silinder segaris, 16 katup, dengan pilihan kapasitas 1,5 liter dan 1,8 liter, dengan salah satunya mampu meletupkan tenaga 125 PS (92 kW; 123 HP). Produksi mobil dihentikan pada tahun 2007 di seluruh dan digantikan oleh Suzuki SX-4, kecuali di China ketika dibangun oleh Changhe-Suzuki sejak tahun 2005.

Di pasaran Indonesia, kendaraan hatchback tersebut pertama kali menyapa publik otomotif Tanah Air pada tahun 2001. Kala itu, mobil ini didatangkan secara CBU. Kemudian, mobil mulai dirakit secara lokal pada tahun 2003 bersama dengan versi sedannya, yaitu Baleno Next-G. Aerio didatangkan ke Indonesia bertujuan untuk menggantikan Suzuki Forsa dalam segmen yang sama yang telah lama berhenti produksi. Sementara, Baleno Next-G dihadirkan untuk menggantikan Baleno versi lawas.

Mengusung bodi hatchback, tidak lantas membuat Suzuki berhasil membuat Aerio sukses dalam hal penjualan. Setelah setahun Aerio beredar, posisi teratas hatchback saat itu dipegang oleh Honda Jazz GD3 yang langsung menjadi primadona. Hal tersebut salah satunya dikarenakan bodi yang diusung Aerio bisa dikatakan kurang menarik. Kesan 90-an masih kental terasa dari styling yang ditawarkan, mulai lampu depan, bumper, dan lampu belakang yang kurang sporty, meski tampilan bodi lebih proporsional jika dibandingkan dengan Baleno Next-G.

Untuk sektor interior, mungkin ini merupakan keunggulan Suzuki Aerio. Melihat ruang kabin kendaraan tersebut, Anda pasti akan lupa bahwa model ini adalah mobil hatchback. Pasalnya, dengan bentuk yang tinggi dan panjang, membuat ruang kepala dan ruang kaki menjadi sangat luas. Susunan panel konsol juga sangat rapi, meski letaknya terlalu ke bawah dan bisa berefek negatif terhadap konsentrasi pengemudi. Untungnya, pada versi facelift, tata letak ini didesain ulang menjadi lebih baik.

Baca juga  Harga Dot Bayi Pigeon Semua Varian

Sayangnya, opsi instrumen klaster yang telah digital kembali menggunakan model jarum konvensional pada versi pembaruan. Dalam hal ini, varian pre-facelift jauh terlihat modern meski biaya sedikit lebih mahal. Selebihnya, ketinggian kursi pengemudi dapat diatur dan memiliki jangkauan yang cukup dari depan hingga belakang. Selain itu, tilt steering tidak lupa disematkan yang berfungsi membantu driver untuk menemukan posisi ketinggian dan kerendahan setir agar nyaman ketika berkendara.

Di bagian jantung pacu, unit yang melenggang di Indonesia menawarkan mesin berkapasitas 1,5 liter, empat silinder segaris, berbahan aluminium. Disokong 16 katup dan injeksi bahan bakar elektronik, kendaraan tersebut mampu menyemburkan tenaga maksimal hingga 100 HP pada putaran 5.900 rpm dan mencapai torsi puncak di angka 133 Nm pada putaran 3.100 rpm, via transmisi manual 5 percepatan atau otomatis 4 percepatan.

Mesin Suzuki Aerio 2006 (sumber: autoblog.com)
Mesin Suzuki Aerio 2006 (sumber: autoblog.com)

Sementara, model di Amerika Utara mendapat mesin berkapasitas 2,0 liter yang lebih besar dan lebih kuat dengan daya 145 HP (108 kW). Transmisi manual 5 percepatan adalah standar, dengan pilihan otomatis 4 percepatan. Suzuki Aerio di AS datang dalam dua tingkat trim, yaitu S dan GS (2002-2004), S dan SX (2005), serta Base dan Premium (2006-2007). Perubahan penting selama bertahun-tahun termasuk upgrade ke mesin 2,3 liter yang mampu meletupkan daya 155 HP (116 kW; 157 PS) pada tahun 2004, styling dan refresh interior utama pada tahun 2005 (mengganti instrumen digital dengan analog konvensional), dan standardisasi rem anti-penguncian pada tahun 2006.

Di pasar Eropa, yang disebut Liana (akronim untuk Life In A New Age), mobil ini dipandang sebagai alternatif yang lebih terjangkau untuk mobil keluarga kecil atau mini MPV, memperkenalkan mesin Suzuki M generasi baru, dengan opsi 1,3 liter dan 1,6 liter. Semua penggerak roda tersedia di mesin yang lebih besar. Pada tahun 2004, mobil itu dibenahi kembali dengan tampilan yang lebih mirip versi Jepang, dan juga menerima mesin diesel, dengan versi 16 katup mesin 1,4 liter HDi yang dipasok oleh PSA Peugeot Citroën, serta mampu memuntahkan daya 90 PS (66 kW; 89 HP) berkat common rail direct injection dan turbocharger geometri variabel.

Baca juga  Info Terbaru Harga Oksigen Portable di Apotik

Seperti dijelaskan sebelumnya, di pasar Indonesia, dan juga pasar global, Suzuki Aerio sudah tidak diproduksi lagi mulai tahun 2006, dan posisinya digantikan oleh model Suzuki SX-4. Namun, jika Anda masih berburu kendaraan tersebut, berikut kami sajikan informasi terbaru harga Suzuki Aerio bekas di pasaran.

Harga Suzuki Aerio Bekas

Tahun Produksi Aerio Harga Bekas
2002 Rp42.000.000 – Rp65.000.000
2003 Rp42.000.000 – Rp64.000.000
2004 Rp45.000.000 – Rp62.000.000
2005 Rp55.000.000 – Rp72.000.000
2006 Rp55.000.000 – Rp70.000.000

Harga Suzuki Aerio bekas di atas kami rangkum dari berbagai sumber, termasuk situs jual beli online dan situs jual beli mobil second. Harga Suzuki Aerio bekas tersebut tidak mengikat dan bisa berubah sewaktu-waktu. Sebagai perbandingan, tahun lalu, Suzuki Aerio second keluaran 2002 ditawarkan Rp40 juta hingga Rp69,5 juta, sedangkan harga Suzuki Aerio bekas edisi 2004 berkisar Rp63 juta hingga Rp73 jutaan.

[Update: Panca]

[1] Marpaung, Anna Octora dan Rachmat Sumanjaya Hasibuan. 2013. Analisis Dampak Kebijakan Pembatasan Uang Muka Kredit (Down Payment) terhadap Permintaan Mobil di Kota Medan. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Universitas Sumatera Utara, Vol. 1(11): 1-11.

[2] Sudirman, Syamsul Bachri, Elimawaty Rombe. 2015. Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Pembelian City Car KIA Picanto pada PT. Kars Inti Amanah (Kalla KIA) Palu. e-Journal Katalogis, Vol. 3(12): 45-56.

[3] Haryanti, Beby dan Eka Danta Jaya Ginting. 2013. Gambaran Postpurchase Dissonance pada Konsumen City Car Honda Brio. Predicara, Vol. 2(1).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.