Info Terbaru Harga Pupuk (Subsidi, Non-Subsidi, Organik)

Pupuk merupakan salah satu bahan atau zat yang dibutuhkan oleh petani untuk menyuburkan tanaman. Sayangnya, kian hari, harga pupuk di Indonesia semakin mahal, tidak hanya pupuk non-subsidi, melainkan juga pupuk bersubsidi. Petani di Indonesia sendiri cenderung membeli pupuk bersubsidi karena harga yang relatif terjangkau, dan hanya memakai pupuk non-subsidi untuk kepentingan yang mendesak.

Memupuk Tanaman (sumber: benevaplantscapes)
Memupuk Tanaman (sumber: benevaplantscapes)

Apa Itu Pupuk?

Seperti dikutip dari Wikipedia, pupuk bisa dikatakan sebagai material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Sementara itu, menurut keterangan Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara atau nutrisi bagi tanaman untuk menopang tumbuh dan berkembangnya tanaman. Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman antara lain C, H, O (ketersediaan di alam melimpah), N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro), dan Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, Mo, B (hara mikro). Bahan ini dapat diberikan lewat tanah, daun, atau diinjeksi ke batang tanaman..

Bacaan Lainnya

Material pupuk dapat berupa bahan organik maupun non-organik (mineral). Pupuk ini berbeda dengan suplemen. Jika pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, maka lebih mirip hormon tumbuhan untuk membantu kelancaran proses metabolisme. Meski demikian, ke dalam pupuk, terutama pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Masih menurut Balai Penelitian Tanah, jenis pupuk adalah bentuk padat dan cair. Berdasarkan proses pembuatannya, pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam, sesuai namanya, adalah pupuk yang diperoleh langsung dari alam, seperti fosfat alam, pupuk kandang, pupuk hijau, dan pupuk kompos. Sebagian dari pupuk alam dapat disebut sebagai pupuk organik karena merupakan hasil proses dekomposisi dari material makhluk hidup seperti sisa tanaman, kotoran ternak, dan lain-lain.

Sementara itu, jenis pupuk yang dihasilkan dari proses pabrik disebut dengan pupuk buatan. Kadar hara, jenis hara, dan komposisi hara dalam pupuk jenis ini sudah ditentukan oleh masing-masing produsen dan menjadi ciri khas dari penamaan atau merek pupuk tersebut. Berdasarkan ragam hara yang dikandungnya, pupuk buatan dibedakan atas pupuk tunggal dan pupuk majemuk.

Pupuk tunggal merupakan jenis pupuk yang mengandung satu macam unsur hara, misalnya pupuk N (nitrogen), pupuk P (fosfat), atau pupuk K (kalium). Pupuk tunggal yang mengandung unsur N dikenal sebagai pupuk urea, ZA (zvavelvuure amonium) biasa disebut ammonium sulfat. Sementara, pupuk yang mengandung unsur P, yaitu TSP (triple superphosphate) dan SP-36.

Nah, pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara disebut dengan pupuk majemuk, di antaranya pupuk NP, pupuk NK, dan pupuk NPK. Pupuk NP adalah pupuk yang mengandung unsur N dan P, sedangkan pupuk NPK adalah pupuk majemuk yang mengandung unsur tiga hara yaitu N, P, dan K. kandungan hara dalam setiap pupuk majemuk berbeda-beda.

Dibandingkan pupuk tunggal, pupuk majemuk lebih sering digunakan lantaran mengandung unsur hara yang beragam. Pupuk NPK misalnya, hanya dengan pemberian satu kali pupuk, diklaim sudah mencakup beberapa unsur sehingga lebih efisien dalam penggunaan bila dibandingkan dengan pupuk tunggal.[1] Perlu diketahui, pasokan nutrisi yang tidak memadai akan memiliki dampak negatif pada kemampuan reproduksi, pertumbuhan, dan hasil panen.[2]

Selain pupuk NPK, jenis lainnya yang juga kerap dipilih petani untuk merawat tanaman mereka adalah jenis KCL. Ini adalah jenis pupuk yang dibuat dari ekstraksi mineral kalium dan mengandung sekitar 60 persen kalium dalam bentuk K2O. Pupuk KCL secara umum memiliki bentuk bubuk atau serbuk berwarna merah.

Suatu studi membuktikan, pemberian pupuk KCL pada taraf 150 kg ternyata mampu meningkatkan hara kalium pada tanah entisol, meskipun tidak terlalu meningkatkan pertumbuhan tanaman kedelai.[3] Riset yang lain menunjukkan, aplikasi pemupukan kalium dosis 211 kg K2O menghasilkan pertumbuhan yang paling baik pada tanaman ubi jalar.[4]

Menaburkan pupuk (sumber: worldbank.org)

Manfaat Pupuk

Seperti diuraikan sebelumnya, pupuk secara umum berguna untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Secara spesifik, pupuk organik diketahui mampu meningkatkan keanekaragaman hayati pertanian dan produktivitas tanah secara jangka panjang. Pupuk organik juga dapat menjadi sarana sekuestrasi karbon ke tanah.

Sayangnya, pupuk organik juga memiliki beberapa kelemahan. Pupuk jenis ini merupakan pupuk yang bersifat kompleks karena ketersediaan senyawa yang ada pada pupuk tidak berupa unsur ataupun molekul sederhana yang dapat diserap oleh tanah secara langsung. Kadar nutrisi yang tersedia sangat bervariasi dan tidak dalam bentuk yang tersedia secara langsung bagi tanaman, sehingga membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh tanaman.

Untuk pupuk buatan atau anorganik, mampu memberikan nutrisi yang langsung terlarut ke tanah dan siap diserap oleh tumbuhan tanpa memerlukan proses pelapukan. Meski demikian, pupuk jenis ini juga tidak luput dari kekurangan, seperti menyebabkan peningkatan keasaman tanah jika digunakan berlebihan, nitrat dalam pupuk buatan dapat mencemari lingkungan alam, pembilasan pupuk nitrogen mampu mencemari air tanah, kontaminasi zat pengotor, hilangnya unsur mikro, dan menyebabkan tanaman menjadi ketergantungan.

Seperti diutarakan sebelumnya, pupuk yang beredar di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu pupuk bersubsidi dan pupuk non-subsidi. Untuk pupuk bersubsidi, harganya sudah diatur oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian tentang alokasi dan HET pupuk bersubsidi. Berikut informasi terbaru harga pupuk bersubsidi di Indonesia.

Harga Pupuk Subsidi

Jenis Pupuk Harga
Pupuk Organik Granul Rp800 per kg
Pupuk ZA Rp1.700 per kg
Pupuk Urea Rp2.250 per kg
Pupuk NPK Rp2.300 per kg
Pupuk SP-36 Rp2.400 per kg
Pupuk NKP Khusus Rp3.300 per kg
Pupuk Organik Cair Rp20.000 per liter

Informasi harga pupuk bersubsidi di atas kami rangkum dari berbagai sumber. Jika dibandingkan ketentuan sebelumnya, harga pupuk bersubsidi saat ini masih belum berubah karena tetap menggunakan Peraturan Menteri Pertanian No 49 tahun 2021 yang menggantikan Peraturan Menteri Pertanian No.1 tahun 2020, tentang alokasi dan HET pupuk bersubsidi.

Tumpukan Pupuk (sumber: Tribunnews) 

Harga Pupuk Non-Subsidi

Jenis Pupuk Non-Subsidi Harga
Pupuk ZK Petro 1 kg Rp18.000 – Rp21.000
Pupuk Gemari (Cair) 1 L Rp130.000
Pupuk Urea PUSRI 50 kg Rp248.000
Pupuk Urea Petro 50 kg Rp475.000
Pupuk ZA Meroke 50 kg Rp298.000
Pupuk ZA Mahkota 50 kg Rp300.000
Pupuk NPK Legion 50 kg Rp260.900
Pupuk NPK Mutiara 50 kg Rp900.000
Pupuk NPK Pak Tani 50 kg Rp1.008.000
Pupuk KCL Mahkota 50 kg Rp850.000

Informasi harga pupuk non-subsidi di atas kami rangkum dari berbagai sumber. Jika dibandingkan penawaran sebelumnya, harganya ada yang naik dan ada yang turun. Harga pupuk NPK Mutiara 50 kg misalnya, awalnya Rp575 ribu dan sekarang melonjak menjadi Rp900 ribuan. Sementara itu, harga pupuk Gemari 1 liter turun dari Rp156 ribu menjadi Rp130 ribuan.

Ilustrasi: Pabrik Pupuk (credit: pupuklabalaba)

Harga Pupuk Organik

Jenis Pupuk Organik Harga
Pupuk Kompos Green Organo 2 kg Rp5.500
Pupuk Organik Kascing 1 kg Rp10.000
Pupuk Organik 3 kg Rp10.500
Pupuk Organik Media Tanam SR 6 kg Rp15.000
Pupuk Kandang Green 3 kg Rp15.000

Apabila dibandingkan penawaran sebelumnya, harga pupuk organik di pasaran saat ini terpantau mengalami penurunan. Harga pupuk kandang Green 3 kg misalnya, awalnya Rp19 ribu dan sekarang menjadi Rp15 ribu. Sementara itu, harga pupuk organik SR yang semula Rp25 ribu per 3 kg, saat ini menjadi Rp15 ribu per 6 kg.

[1] Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademik Pressindo, hlm. 250.

[2] Vine, H. 1953. Experiments on the maintenance of soil fertility in Ibadan, Nigeria. Journal of Expt’l Agric, Vol. 21: 65-71.

[3] Gaol, Surya Karto Lumban, dkk. 2014. Pemberian Zeolit dan Pupuk Kalium untuk Meningkatkan Ketersediaan Hara K dan Pertumbuhan Kedelai di Entisol. Jurnal Online Agroteknologi, Vol. 2(3): 1151-1159.

[4] Apriliani, Iin Nur, dkk, 2016. Pengaruh Kalium pada Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Tanaman Ubi Jalar (Ipomea batatas (L.) Lamb), Jurnal Produksi Tanaman, Vol.  4(4): 264-270.

Pos terkait