Specs dan Info Terbaru Harga Lokomotif CC 206

Untuk menarik gerbong kereta, dibutuhkan lokomotif yang biasanya diletakkan di depan dan sudah dilengkapi mesin yang dioperasikan masinis. Industri perkeretaapian di Indonesia sendiri memiliki banyak tipe lokomotif, dan salah satu yang tergolong baru adalah seri CC 206. Merupakan produk buatan AS, harga lokomotif ini memang sangat mahal, mencapai angka miliaran rupiah per unit.

Lokomotif CC-206 (sumber: wikipedia)
Lokomotif CC-206 (sumber: wikipedia)

Sebagai salah satu moda transportasi darat, kereta api dikatakan memiliki banyak keunggulan daripada model lainnya. Kereta api dikatakan memiliki dampak polusi yang paling kecil bagi lingkungan dibandingkan transportasi lainnya di Indonesia, hanya 1%. Selain itu, kereta api juga bebas dari kemacetan karena punya jalur khusus dan lebih hemat bahan bakar lantaran punya daya tampung penumpang yang cukup besar.[1]

Bacaan Lainnya

Nah, agar kereta api dapat beroperasi sebagaimana mesinnya, dibutuhkan lokomotif untuk menarik dan menggerakkan alat transportasi tersebut. Biasanya diletakkan di posisi paling depan dari sebuah rangkaian kereta api, lokomotif ini dioperasikan oleh seorang masinis yang bekerja berdasarkan perintah dari pusat pengendali perjalanan kereta api melalui sinyal yang terletak di pinggir jalur rel.

Ada banyak model lokomotif yang digunakan untuk menarik gerbong kereta api. Jenis pertama dan mungkin paling awal adalah lokomotif uap, yang pertama kali diciptakan pada masa revolusi industri.[2] Setelah itu, ada lokomotif diesel mekanis, lokomotif diesel elektrik, lokomotif diesel hidraulik, dan lokomotif listrik yang kini merupakan jenis paling populer.

Baca juga  Info Terbaru Harga Bagasi AirAsia Rute Domestik & Internasional

Review Lokomotif CC 206

Indonesia sendiri, melalui PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), telah memiliki banyak lokomotif untuk menarik gerbong kereta api. Nah, salah satu yang terbilang cukup anyar karena baru didatangkan sekitar tahun 2013 lalu adalah lokomotif CC 206. Ini adalah lokomotif buatan General Electric, sebuah perusahaan asal AS yang ternyata telah bekerja sama dengan Indonesia lebih dari 30 tahun.

Awalnya, dikutip dari tiketkai.com, PT KAI memesan lokomotif ini sebanyak 100 unit pada akhir tahun 2012 lalu tanpa boogie, yang ditujukan untuk menarik kereta api penumpang maupun barang yang beroperasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Setelah tiba di Tanah Air, lokomotif-lokomotif tersebut diangkut ke Balai Yasa Yogyakarta untuk pemasangan boogie sebelum dioperasikan pada tahun 2013.

Dua tahun berselang, perusahaan kembali mendatangkan 50 unit lokomotif CC 206 (30 untuk di Pulau Jawa dan 20 unit di Sumatera pada tahun 2016). Dengan tibanya lokomotif CC 206 generasi kedua, maka ada 150 unit CC 206 sekaligus melebihi kapasitas lokomotif CC 201 yang berjumlah 144 unit (131 beroperasi, 7 dijadikan CC 204, dan 6 lainnya rusak).

Masih menurut referensi yang sama, lokomotif ini memiliki 2 bogie dengan konfigurasi C-C, yaitu tiga buah roda penggerak di setiap bogie-nya. Dilengkapi dua kabin masinis di ujung muka dan belakang seperti lokomotif di Eropa, untuk urusan lampu, lokomotif ini masih mengikuti desain lokomotif General Electric yang sudah beroperasi di Indonesia. Bentuk pintu masuk kabin juga mirip dengan yang ada pada model CC 203.

Baca juga  Specs dan Harga Traktor Yanmar Bromo Series
Lokomotif CC 206 (sumber: redigest.web.id)
Lokomotif CC 206 (sumber: redigest.web.id)

Di bagian dapur pacu, lokomotif CC 206 dibekali mesin GE 7FDL-8 versi terbaru, dengan emisi diklaim setingkat dengan emisi lokomotif Dash-9 di AS. Lokomotif ini memiliki daya sebesar 2.250 tenaga kuda. Jika dibandingkan dengan lokomotif General Electric sebelumnya, lokomotif ini memiliki tenaga yang lebih besar serta emisi buang yang lebih rendah. Selain itu, juga dilengkapi dengan komputer GE BrightStar Sirius yang dipadukan layar monitor GE Integrated Function Display (GE IFD).

Spesifikasi Lokomotif CC 206

Model Lokomotif GE CM20EMP
Produsen General Electric Transportation
Dimensi Lokomotif 15.849 mm  x 2.743 mm x 3.695 mm
Mesin Diesel, GE 7FDL-8, turbocharger, 4-
Berat Kosong 90 ton
Beban Gandar 15 ton
Motor Traksi 6
Jumlah Silinder 8
Daya Maksimal 2.250 HP
Kecepatan Maksimal 140 km/jam
Rem Lokomotif Westinghouse 26L

Harga Lokomotif CC 206

Ketika pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 2013 lalu, lokomotif CC 206 dijual dengan harga mencapai Rp20 miliar per unit. Kemudian, pada tahun 2015, meski tidak disebutkan dengan pasti, PT KAI saat itu menandatangani pemeliharaan lokomotif dengan General Electric senilai 60 juta dolar AS atau setara Rp840 miliar (kurs 1 dolar AS = Rp14.000), selain mendatangkan 150 lokomotif baru.

Baca juga  Info Terbaru Harga Test Pack Onemed Semua Varian (Ecer & Box)
Lokomotif CC 206 milik PT KAI (sumber: informasikereta.com)
Lokomotif CC 206 milik PT KAI (sumber: informasikereta.com)

Karena memiliki bentuk yang oke dan iconic, akhirnya banyak perajin yang membuat miniatur atau replika lokomotif CC 206 dengan bentuk menyerupai aslinya. Harganya dipatok bervariasi, tergantung skala ukuran dan detail miniatur. Sebagai referensi, berikut kami sajikan informasi terkini kisaran harga miniatur lokomotif CC 206 di pasaran dalam negeri.

Harga Miniatur Lokomotif CC 206

Ukuran Miniatur Lokomotif CC 206 Harga
Miniatur Lokomotif CC 206 Skala 1:110 Rp126.000
Miniatur Lokomotif CC 206 Skala HO 1:76 Rp356.000 – Rp800.000
Miniatur Lokomotif CC 206 Skala HO 1:87 Full Audio Rp4.550.000

Informasi harga miniatur lokomotif CC 206 di atas kami rangkum dari berbagai sumber. Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya, miniatur dengan skala 1:110 ditawarkan dengan harga Rp67 ribu sampai Rp155 ribuan. Sementara itu, miniatur lokomotif CC 206 skala HO dijual dengan harga Rp500 ribu sampai Rp1,1 jutaan, sedangkan harga miniatur lokomotif CC 206 skala HO full audio berkisar Rp6 jutaan.

[1] Pramyastiwi, Deasy E., Imam Hardjanto, Abdullah Said. 2013. Perkembangan Kualitas Pelayanan Perkeretaapian sebagai Angkutan dalam Rangka Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan (Studi pada PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 8 Surabaya). Jurnal Administrasi Publik Universitas Brawijaya, Vol. 1(3): 61-69.

[2] Bailey, Gerry. 2007. Ensiklopedia Kreatif Volume 10: Penemuan Abad Industri. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, hlm. 42.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.