Kandungan dan Update Harga Kol/Kubis Ungu (250 gr, 500 gr, 1 kg)

Apakah Anda pernah mengonsumsi kubis atau kol ungu? Jika belum, Anda perlu memasukkan sayuran ini dalam harian Anda. Pasalnya, selain punya warna yang sangat menarik, ternyata kol ungu memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh kita. Tidak sulit mendapatkan produk ini, walaupun mungkin harganya lebih mahal dibandingkan kubis hijau.

Irisan kol/kubis ungu (sumber: jybmedia.com)
Irisan kol/kubis ungu (sumber: jybmedia.com)

Mungkin Anda sudah sangat familiar dengan kubis atau kol. Ini adalah tanaman dua hijau atau ungu berdaun, ditanam sebagai tanaman tahunan sayuran untuk kepala padat berdaunnya. Sayuran ini dapat diolah dalam berbagai macam cara. Kubis dapat dibuat acar, difermentasi untuk hidangan seperti sauerkraut, dikukus, direbus, ditumis, atau langsung dimakan dalam kondisi mentah. Dilansir dari BioMed Research International Journal, dalam 90 kol ungu terkandung berbagai macam nutrisi, sebagai berikut.

Bacaan Lainnya

Kandungan Kol Ungu

Komponen Nutrisi per 90 Keterangan
Kalori 28
Protein 1 gr
Karbohidrat 7 gr
Serat 2 gr
Vitamin C 56% AKG
Vitamin K 28% AKG
Vitamin B6 11% AKG
Vitamin A 6% AKG
Potasium 5% AKG
Thiamin 5% AKG
Riboflavin 5% AKG

Untuk Indonesia, kubis merupakan salah satu komoditas sayuran yang selalu memberikan surplus perdagangan, dengan nilai ekspor diklaim selalu lebih tinggi daripada impor. Pada tahun 2005 hingga 2009, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kubis berada di kisaran 8 juta hingga 10 juta dolar AS, sedangkan nilai impor rata-rata di angka 346 ribu hingga 604 ribu dolar AS.[1]

Baca juga  Update Harga Paket Hemat Large McD (McDonald’s) dan Menu Recehnya

Manfaat Kol Ungu

Secara umum, warna kubis adalah hijau pucat sehingga disebut forma alba (putih). Meski demikian, ada pula kubis yang berwarna lain, salah satunya ungu. Dibandingkan kubis hijau pucat, kol ungu diklaim memiliki lebih banyak manfaat untuk kesehatan karena kaya akan nutrisi seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E, kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi, serta mengandung antosianin.[2]

Kubis ungu & kubis hijau (sumber: lexmed.com)
Kubis ungu & kubis hijau (sumber: lexmed.com)

Antosianin diketahui sebagai senyawa flavonoid yang memiliki fungsi sebagai antioksidan alami, dengan kekuatan antioksidan diklaim 150 kali lebih kuat daripada flavonoid.[3] Selain itu, antosianin juga sering dikatakan mampu menghentikan reaksi radikal bebas dengan menyumbangkan hidrogen atau elektron pada radikal bebas, kemudian menstabilkannya.

Masih seputar anthocyanin pada kol ungu. Bahan ini juga berpotensi menjaga kesehatan jantung Anda. Dalam sebuah penelitian terhadap peserta perempuan yang mengonsumsi makanan kaya anthocyanin, sekitar 11 sampai 32 persen ditemukan memiliki risiko serangan jantung yang lebih rendah jika dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi makanan serupa.

Kandungan sulforaphane dan anthocyanin dalam kol ungu juga dipercaya memiliki sifat anti-kanker. Sebuah uji coba menemukan bahwa mengonsumsi kol ungu dapat menurunkan risiko kanker usus besar 18 persen lebih rendah. Selain itu, sulforaphane disebut dapat membantu membunuh sel kanker atau mencegahnya tumbuh dan menyebar menjadi kanker.

Baca juga  Update Harga Buah Tin Segar di Pasaran (Semua Varietas)

Tidak hanya itu, kol ungu juga disebutkan dapat mengatasi inflamasi yang menyebabkan berbagai penyakit. Sebuah studi, seperti dilansir dari Kontan, menyebutkan bahwa kol ungu dapat mengurangi inflamasi pencernaan sebanyak 22 hingga 40 persen. Selain itu, kol ungu juga dapat digunakan untuk mengatasi inflamasi pada kulit, caranya dengan menempelkan kol sekali sehari untuk mengurangi rasa nyeri.

Mineral yang terdapat pada kol ungu, seperti kalsium, mangan, dan zinc, serta sejumlah vitamin seperti vitamin C, berperan penting dalam pembentukan tulang. Lebih jauh, kombinasi zat-zat ini diklaim dapat menjaga sel-sel tulang dari kerusakan. Ini tentunya sangat bermanfaat bagi mereka yang lanjut usia untuk mencegah atau meminimalkan tulang keropos.

Bagi Anda yang memiliki gangguan pencernaan, dikutip dari Detikhealth, Anda bisa mencoba untuk mengonsumsi kol ungu. Pasalnya, kol ungu dapat meningkatkan fungsi usus dan menurunkan pada usus. Kol ungu juga merupakan sumber serat yang bisa menjaga kesehatan usus dan membantu mencerna makanan sehingga mengurangi risiko sembelit.

Nah, apabila Anda tertarik dengan manfaat yang ditawarkan kol atau kubis ungu, tidak sulit mendapatkan sayuran ini. Pasalnya, Anda sudah bisa membelinya di berbagai pasar tradisional hingga supermarket modern. Selain itu, kol ungu juga bisa diperoleh lewat beberapa situs jual beli online. Sebagai referensi, berikut kisaran harga kol ungu di pasaran dalam negeri.

Baca juga  Update Harga Biji Kopi Mentah (Green Bean)

Harga Kol Ungu

Bobot Kol Ungu Harga
Kol Ungu 250 gr Rp11.700 – Rp17.500
Kol Ungu 500 gr Rp18.500 – Rp28.400
Kol Ungu 1 kg Rp40.000 – Rp67.200

Jika dibandingkan penawaran sebelumnya, harga kol ungu di pasaran saat ini cenderung naik. Sebagai contoh, kol ungu berat 500 yang semula dijual dengan rentang harga Rp17.500 sampai Rp27.900, kini menjadi Rp18.500 hingga Rp28.400. Begitu pula dengan harga kol ungu per 1 kilogram yang naik dari rentang Rp30.000 sampai Rp60.000 menjadi Rp40.000 hingga Rp67.200.

Harga kubis atau kol ungu di atas kami rangkum dari berbagai sumber, termasuk sejumlah platform e-commerce. Perlu Anda ketahui bahwa harga kol ungu tersebut tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Jika Anda ingin membudidayakan kol ungu di rumah, Anda bisa membeli bibit atau benih kubis violet ini dengan harga mulai Rp17.900 untuk varian F1 Scarlet berisi 150 butir.

[Update: Ditta]

[1] Arsanti, Idha Widi, Apri Laila Sayekti, Adhitya M. K. 2017. Analisis Rantai Nilai Komoditas Kubis (Brassica oleracea L): Studi Kasus di Sentra Kabupaten Karo. Jurnal Hortikultura, Vol. 27(2): 269-278.

[2] Pratama, Mamat, Aminah, Rizky Arfanita Mas’ud. 2018. Efektifitas Pemanfaatan Potensi Senyawa Fenolik Kubis Ungu (Brassica Oleracea var. capitata. L) secara Instrumen UV-VIS. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, Vol. 5(2): 293-298.

[3] Ibid.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.