Info Harga Beras Rojolele 50 Kg di Pasaran

Beras menjadi salah satu varietas beras yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia selain beras pandan wangi. Beras satu ini memiliki tekstur yang dan cukup mengenyangkan. Lantaran termasuk beras dengan mutu baik, harga beras Rojolele 50 kg pun bisa mencapai ratusan ribu rupiah lebih.

Beras Rojolele (sumber: kumparan)
Beras Rojolele (sumber: kumparan)

Tentang Beras Rojolele

Di dunia terdapat kurang lebih 22 jenis padi-padian (Oryza). Jenis O. sativa dan O. glaberrima adalah jenis yang dibudidayakan, sedangkan sisanya adalah jenis-jenis liar. O. sativa adalah jenis yang paling tersebar ke seluruh dunia. Rojolele merupakan salah satu varietas unggul lokal yang dikembangkan di Indonesia. Varietas ini telah ditetapkan sebagai varietas unggul karena disenangi petani dan konsumen, rasa nasi lebih enak/pulen, di samping itu harga berasnya tinggi hampir dua kali lipat dari harga IR 64.[1]

Bacaan Lainnya

Rojolele sendiri merupakan kultivar padi lokal unggulan Indonesia yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Kultivar beras Rojolele diresmikan oleh Kementerian Indonesia pada tahun 2003 silam dan dijadikan salah satu padi asal Indonesia yang dipakai sebagai induk persilangan penelitian di International Rice Research Institute (IRRI).

Beras Rojolele memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda dari varietas beras lainnya. Ciri khas yang paling terlihat dari beras Rojolele adalah bentuknya yang bulat dan sebagian butirannya yang berwarna putih susu. Beras yang satu ini tak memiliki aroma pandan seperti halnya beras jenis Pandan Wangi dan Setra Ramos. Meski demikian, beras yang banyak diproduksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut memiliki tekstur yang dan lembut.

Dengan keunggulan tersebut, tidak mengherankan jika beras Rojolele menjadi varian yang cukup disukai oleh masyarakat Indonesia. Beras jenis Rojolele sendiri sudah dijual bebas di toko-toko, pasar, hingga pusat perbelanjaan besar seperti swalayan, supermarket, maupun minimarket. Beras Rojolele biasanya dikemas dalam sak berbagai ukuran, yakni yang paling kecil 5 kg, 10kg, 20kg, hingga 50 kg per karung.

Untuk harganya, harga beras Rojolele bervariasi, tergantung kemasan, merk, serta dijual di mana. Biasanya, beras Rojolele yang dijual di pasar tradisional lebih murah dibandingkan yang ditawarkan di minimarket maupun swalayan modern. Nah, berikut kami rangkum informasi kisaran harga beras Rojolele kemasan 50 kg yang kami kumpulkan dari berbagai sumber.

Harga Beras Rojolele 50 Kg

Beras Rojolele (sumber: ralali.com)
Merek Beras Rojolele 50Kg Harga (Rp)
Beras Rojolele Super Kepala 50 kg 485.000
Beras Rojo Lele AA3 50kg 530.000
Beras RojoleleDelanggu 50 kg 540.000
Beras Super Rojolele Dua Koki 50 kg 590.000

Harga beras Rojolele sendiri sangat bervariasi, bisa berbeda-beda di masing-masing wilayah. Selain itu, harga beras Rojolele 50 kg dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa langsung melakukan cek harga di pasar tradisional maupun swalayan di daerah Anda.

Ciri Beras Bebas Bahan Kimia

Kita juga harus mengetahui ciri-ciri beras bebas bahan kimia. Berikut ini tips untuk mengetahui ciri-ciri beras bebas bahan kimia. Pertama, beras dengan bahan pemutih. Bahan pemutih yang biasanya digunakan oleh pengusaha beras nakal adalah kaporit, tawas, bahkan detergen dan pemutih pakaian. Namun ada cara mudah mengetahuinya yaitu jika beras terlihat sangat putih tidak kekuning-kuningan seperti halnya beras-beras biasanya maka Anda harus menghindarinya.[2]

Kedua, beras dengan bahan pewangi. Jika di pasaran kita menemui beras yang tidak bulat tapi cenderung lonjong dan beraroma wangi maka dapat dipastikan itu bukan beras pandan wangi asli, tapi beras jenis lain yang diberi bahan pewangi.

Ketiga, beras dengan bahan pelicin. Tidak jarang kita temui beras di pasaran yang sangat licin apabila kita remas. Harus kita waspadai apakah beras tersebut dicampur bahan pelicin atau tidak. Caranya sangat mudah, yaitu kita coba remas-remas beras tersebut apakah banyak menempel di telapak atau tidak. Jika banyak yang menempel maka beras tersebut telah dicampur dengan bahan pelicin.[3]

[1]Priadi, D dkk. 2007. Padi Organik Versus Non Organik: Studi Fisiologi Benih Padi (Oryza sativa L.) Kultivar lokal rojolele. Jurnal Ilmu-Ilmu Indonesia. 9(2): 130-138.

[2] Rahman, S. 2018. Membangun Dan Pangan Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan. Yogyakarta: Deepublish, hlm 156.

[3]Ibid., hlm 157.

Pos terkait