Update Contoh dan Cara Menghitung Biaya Produksi Pabrik

Dalam kegiatan produksi, dikenal adanya biaya produksi. Sering disebut sebagai biaya pabrikasi (product cost), biaya ini perlu dihitung, dengan tujuan untuk mengetahui besarnya pengumpulan yang dikeluarkan. Besarnya biaya produksi sendiri dipengaruhi oleh elemen-elemen yang terkandung di dalam biaya produksi, meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Ilustrasi: menghitung besaran pajak (sumber: wsj.com)
Ilustrasi: menghitung biaya-biaya (sumber: wsj.com)

Sebelum membahas mengenai cara menghitung biaya produksi, kita bedah dulu apa itu biaya produksi. adalah sumber ekonomi yang dikorbankan untuk menghasilkan keluaran, dengan nilai keluaran diharapkan lebih besar daripada masukan yang dikorbankan.[1] Pengertian lainnya, adalah biaya yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi, dan biasanya terdiri dari tiga unsur, yakni bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.[2]

Bacaan Lainnya

Selain mengetahui besaran pengumpulan biaya, penting juga peranannya dalam penentuan harga pokok produksi. Namun, untuk penghitungan biaya pokok produksi, biaya tersebut perlu diklasifikasikan dengan benar dan jelas. Penggolongan biaya yang digunakan bisa berdasarkan beberapa pertimbangan, salah satunya fungsi pokoknya dalam perusahaan.

Unsur

Seperti disinggung di atas, setidaknya ada tiga biaya yang termasuk dalam biaya produksi. Yang pertama adalah biaya bahan baku langsung, yang tergantung dari jenis usaha yang dilakukan. Misalnya untuk perusahaan pembuatan berbagai jenis makanan, yang termasuk dalam biaya bahan baku langsung adalah bahan baku untuk pembuatan permen, cake, roti, cookies, cokelat, dan lainnya. Bahan baku adalah bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi barang jadi, yang secara fisik dapat diidentifikasikan pada barang jadi.

Kemudian, untuk biaya tenaga kerja langsung, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja yang secara fisik langsung terlibat dengan pembuatan produk. Biaya yang timbul karena pembuatan produk merupakan tenaga kerja utama yang melekat pada sebuah produk. Besarnya biaya tenaga kerja utama dapat dihitung berdasarkan jam kerja, hari kerja, dan satuan produk. Biaya tenaga kerja langsung ini bisa terdiri dari gaji karyawan pabrik, upah lembur karyawan pabrik, biaya kesejahteraan karyawan pabrik, upah mandor pabrik, dan juga gaji manajer pabrik.

Yang ketiga adalah biaya overhead pabrik, yakni selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, seperti biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya penyusutan aktiva tetap, dan sebagainya.[3] Biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung hingga produk selesai, tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk selesai.

Sebelum menghitung pabrik, Anda perlu mengumpulkan data-data terlebih dahulu. Dalam perhitungan biaya bahan baku misalnya, perlu diketahui biaya masing-masing yang dikeluarkan selama proses pembuatan produk atau suatu barang, yang mungkin terdiri dari biaya bahan, peralatan, dan biaya lain-lain. Selain itu, diperlukan data lain seperti upah tenaga kerja, biaya sewa peralatan, dan lainnya.

Misalnya, PT A merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konveksi. Dalam satu bulan, mereka mengeluarkan biaya untuk persediaan bahan baku, bahan baku setengah jadi, gaji tenaga kerja langsung, biaya pemeliharaan mesin, biaya pengiriman, dan lainnya. Untuk lebih lengkapnya, Anda dapat melihat tabel berikut.

Ilustrasi: aktivitas produksi di pabrik (sumber: dw)

Laporan Keuangan PT A

Komponen Biaya
Persediaan Bahan Baku Rp30.000.000
Bahan Baku Setengah Jadi Rp40.000.000
Barang Jadi Siap Dijual Rp80.000.000
Pembelian Persediaan Bahan Baku Rp50.000.000
Biaya Pengiriman Rp5.000.000
Gaji Tenaga Kerja Langsung Rp30.000.000
Sisa Penggunaan Bahan Baku dan Sisa Bahan Setengah Jadi Rp30.000.000
Sisa Bahan Setengah Jadi Rp5.000.000
Kaos Siap Dijual Rp30.000.000
Ilustrasi: menghitung biaya overhead pabrik (sumber: hubpost.com)

Cara Menghitung

  • Tahap 1: Bahan baku yang digunakan = saldo awal bahan baku + pembelian bahan baku – saldo akhir bahan = Rp30.000.000 + (Rp50.000.000+Rp5.000.000) – Rp30.000.000 = Rp55.000.000.
  • Tahap 2: Biaya Produksi = bahan baku + tenaga kerja langsung + biaya overhead pabrik= Rp55.000.000 + Rp30.000.000 + 5000.000 = Rp.90.000.000. per unit = biaya produksi : total unit = Rp.90.000.000 : 5.000 = Rp18.000.
  • Tahap 3: Harga Pokok Produksi = total biaya produksi + saldo awal persediaan – saldo akhir= Rp90.000.000 + Rp40.000.000 – Rp5.000.000 = Rp125.000.000.
  • Tahap 4: Harga Pokok Penjualan = Harga pokok produksi + persediaan barang awal – persediaan akhir = Rp90.000.000 + Rp.80.000.000 – Rp.50.000.000 = Rp140.000.000.

Harga pokok produksi sendiri bisa diketahui setidaknya dengan dua metode, pertama yaitu metode full costing, yang merupakan metode penentuan cost produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap. Sementara itu, metode kedua adalah variable costing, yang merupakan metode penentuan cost produksi yang hanya memperhitungkan yang berperilaku variabel ke dalam cost produksi.

[1] Felicia dan Robinhot Gultom. 2018. Pengaruh Biaya Produksi, Biaya Kualitas dan Biaya Promosi terhadap Laba Bersih pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015. Jurnal Ilmu Manajemen Methonomix, Vol. 1(1): 1-12.

[2] Worotitjan, Calvin Riedel Fredrik dan Jenny Morassa. 2016. Analisis Perhitungan Biaya Produksi pada PT. Manado Nusantara Informasi (Koran Sindo). Jurnal EMBA, Vol. 4(1): 974-981.

[3] Anwar, Chairil, Lidia Fasi Ashari, Indrayenti. 2010. Harga Pokok Produksi dalam Kaitannya dengan Penentuan Harga Jual untuk Pencapaian Target Laba Analisis (Studi Kasus pada PT. Indra Brother’s di Bandar Lampung). Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 1(1): 79-90.

Pos terkait