Info Terbaru Contoh Biaya Produksi dalam Proposal Usaha

Dalam menjalankan suatu usaha, Anda perlu untuk melakukan proyeksi keuangan. Proyeksi keuangan adalah sebuah perencanaan keuangan atau sebuah anggaran untuk usaha yang sedang berjalan. Hal tersebut dilakukan untuk memperkirakan jumlah biaya yang mungkin timbul dan proyeksi pendapatan yang akan dihasilkan untuk periode tertentu, termasuk biaya produksi.

Melakukan proyeksi keuangan mungkin bukan merupakan pekerjaan yang mudah, terlebih jika dilakukan oleh para pemula. Mungkin masih banyak angka-angka yang tidak sesuai. Namun, dengan berjalannya waktu, akan didapatkan angka-angka sesuai dengan proyeksi keuangan yang diinginkan. Selain itu, proyeksi keuangan dapat digunakan dalam membuat sebuah perencanaan bisnis (business plan).

Bacaan Lainnya
contoh, biaya, produksi, dalam, proposal, usaha, barang, jasa, metode, full, costing, semua, proses, diperhitungkan, jangka, panjang, pendek, tetap, variabel, pengeluaran, naik, turun, harga, pasaran
Proposal Usaha (ventureburn.com)

Di dalam perhitungan proyeksi keuangan, ada satu jenis biaya yang harus dihitung, yaitu biaya produksi. Menurut teorinya, biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh suatu entitas (misalnya perusahaan) untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan -bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut.

Biaya produksi sendiri juga bisa disebut dengan biaya produk, yaitu biaya-biaya yang dapat dihubungkan dengan suatu produk ketika biaya ini merupakan bagian dari persediaan. Contoh dari biaya produksi antara lain:

  • Biaya baku langsung, bahan baku langsung adalah bahan baku yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk selesai dan dapat ditelusuri langsung kepada produk selesai. Contoh dari bahan baku langsung adalah kayu dalam pembuatan mebel, kain dalam pembuatan pakaian, karet dalam pembuatan ban, tepung dalam pembuatan kue, minyak mentah dalam pembuatan bensin, dalam pembuatan sepatu, dan lain-lain. 
  • Biaya tenaga kerja langsung, biaya ini merupakan tenaga kerja yang digunakan dalam mengubah atau mengonversi baku menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Contoh dari biaya tenaga kerja langsung adalah upah tukang serut dan potong kayu dalam pembuatan mebel, tukang jahit, bordir, pembuatan pola dalam pembuatan pakaian, operator mesin jika menggunakan mesin, dan lain-lain.
  • Biaya overhead pabrik, adalah biaya selain baku langsung dan tenaga kerja langsung, tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk selesai. Biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung hingga produk selesai. Biaya overhead dapat dikelompokkan menjadi elemen bahan tidak langsung (bahan pembantu atau penolong), tenaga kerja tidak langsung, dan biaya tidak langsung lainnya). 

Besarnya biaya produksi berhubungan dengan hasil produksi, dengan biaya dilambangkan dengan f(Q), Q merupakan input. Lalu, output dilambangkan dengan f(X), dengan X adalah input. Dari lambang mengenai input dan output, dapat dibuat fungsi biaya produksi, dengan ada hubungan input dengan jumlah output. Besarnya output tergantung pada biaya atas input yang digunakan. Hal tersebut tidak terlepas dari perilaku biaya produksi, yang dipengaruhi oleh karakteristik fungsi produksi dan harga input yang digunakan dalam proses produksi.

Di samping itu, biaya produksi juga dapat dikelompokkan menjadi biaya produksi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk biaya produksi jangka pendek, masih dibagi lagi menjadi tiga jenis biaya, yaitu:

  • Biaya Total/Total Cost (TC), yang merupakan keseluruhan jumlah ongkos produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Cara menghitung TC adalah dengan menjumlahkan antara total biaya tetap dan biaya variabel.
  • Total Biaya Tetap (TFC), yang merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya.
  • Total Variable Cost (TVC), yang merupakan keseluruhan biaya untuk memperoleh faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya.

Selain biaya produksi jangka pendek, selanjutnya adalah biaya produksi jangka panjang. Untuk biaya jangka panjang ini, perusahaan dapat menambah semua faktor produksi, sehingga biaya produksi perlu dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel, dengan semua pengeluaran dapat dianggap sebagai biaya variabel.

Menghitung Biaya Produksi

Terdapat dua cara yang umum digunakan untuk mengukur biaya yang berhubungan dengan biaya produksi, yaitu:

  • Menghitung biaya aktual yang mengharuskan perusahaan menggunakan biaya aktual dari seluruh sumber daya yang digunakan dalam produksi untuk menentukan biaya per unit.
  • Menghitung biaya normal yang mengharuskan perusahaan membebankan biaya aktual baku langsung dan tenaga kerja langsung kepada yang diproduksi, sedangkan biaya overhead dibebankan berdasarkan estimasi yang ditentukan terlebih dulu. Dalam praktik, kalkulasi biaya normal paling sering digunakan, yaitu tarif Overhead = Overhead yang dianggarkan : Penggunaan aktivitas yang dianggarkan.

Untuk menghitung biaya produksi, metode yang sering digunakan adalah metode full costing. Metode ini sudah memasukkan semua biaya yang harus diperhitungkan dalam proses produksi. Misalnya, jika Anda hendak bergelut dalam usaha budidaya cacing, maka contoh rincian perhitungan biaya produksi dalam proposal Anda adalah sebagai berikut.

Menghitung biaya produksi

Kalkulasi Biaya Produksi

Komponen Biaya
Biaya pengadaan indukan Rp3.750.000 
Biaya sewa lahan perkiraan 1 tahun Rp2.000.000
Biaya pakan untuk 3 bulan Rp1.000.000
Biaya pembelian arko Rp450.000
Biaya pembelian paranet 2 roll Rp2.500.000
Biaya pembelian genteng bekas Rp500.000
Biaya pembelian bambu Rp500.000
Operasional produksi Rp550.000
Biaya tukang pengerjaan Rp500.000
Biaya lainnya Rp250.000
Total Biaya Rp12.000.000

Kalkulasi Hasil Produksi Setelah 3 Bulan Pertama Panen Perdana

Komponen Biaya
Bulan ke-4 prediksi panen 1,7 kuintal @ Rp22.500/kg Rp3.825.000
Biaya operasional 1 bulan Rp1.000.000
Gaji teknisi Rp1.000.000
Biaya lain-lain Rp250.000
Laba bersih perusahaan  Rp1.575.000

Kalkulasi Pengembangan Modal Usaha

Komponen Keterangan
Pengembalian modal pokok  Rp12.000.000 : 12 = Rp1.000.000
Target yang harus dicapai 30%  Rp300.000 per bulan
Laba bersih perusahaan per bulan – pengembalian modal + profit per bulan Rp1.575.000 – (Rp1.000.000 + Rp300.000) = Rp275.000

Dari contoh di atas, harga produksi bisa saja naik atau turun tergantung harga pasaran. Lahan sewa yang akan digunakan belum bisa ditentukan luasnya dan juga kemampuan produksinya. Kalkulasi di atas hanya untuk skala pembibitan 1,5 kuintal indukan cacing.  Untuk gaji pekerja, masih dalam taraf coba dan kondisional, ditinjau dari kemampuan 1 pekerja untuk dapat menangani bibit 2 kuintal atau lebih.

(Panca)

Pos terkait