Update Cara Menghitung Biaya Pemakaian Listrik Bulanan PLN

Seringkali kita kesulitan ketika membuat perencanaan anggaran rumah tangga. Tidak hanya soal biaya pendidikan anak, tetapi juga biaya pembayaran air (PDAM) hingga biaya . Tak jarang, orang menganggarkan berlebihan untuk membayar listrik. Beberapa orang bahkan merasa kekurangan ketika dihadapkan dengan listrik.

Ilustrasi: instalasi listrik (sumber: cermati.com)

Ilustrasi: instalasi listrik (sumber: cermati.com)

Untungnya, seiring dengan kecanggihan saat ini, membayar listrik tidak harus langsung melalui loket PLN. Ada banyak sekali cara mudah untuk membayar listrik, apalagi kebanyakan orang sudah menggunakan listrik berbasis token. Untuk menggunakan listrik berbasis token, Anda bisa memilih paket mulai Rp20 ribu, Rp50 ribu, Rp100 ribu, Rp200 ribu, hingga Rp1 juta. Pembayaran bisa Anda lakukan dengan mudah melalui beberapa minimarket. Namun, sebelum Anda melakukan pembelian token listrik, Anda juga perlu mengetahui apakah biaya yang Anda anggarkan sudah cukup atau belum. 

Kebijakan Listrik di 2017

Seperti diketahui, mengawali tahun 2017 lalu, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan penambahan satu golongan tarif baru, yaitu rumah tangga mampu dengan daya 900 VA (R-1/900 VA-RTM)‎. Dengan adanya kebijakan dalam memberikan subsidi tepat sasaran, maka golongan tarif listrik R-1/900 VA khusus rumah tangga mampu akan diberlakukan kenaikan bertahap setiap 2 bulan, yaitu 1 Januari 2017, 1 Maret 2017, 1 Mei 2017, dan pada 1 Juli 2017.

Ketika masih menerima subsidi dari pemerintah, tarif listrik golongan 900 Watt ini sebesar Rp585 untuk setiap konsumsi listrik per kWh. Kemudian, dibantu dengan subsidi pemerintah Rp875 per kWh, dengan rata-rata konsumsi listrik Rp125 kWh per bulan. Total, tagihan listrik per bulan “hanya” mencapai Rp74.740.

Setelah subsidi listrik tersebut dicabut, mulai 1 Januari 2017, maka tagihan listrik golongan 900 Watt adalah sebesar Rp1.450 per kWh, atau di atas konsumsi rata-rata Rp125 per kWh, sehingga tagihan yang dibayar mencapai Rp185.794 per bulan. Kemudian, di tahap kedua pada bulan Maret hingga April 2017, tarif listrik naik lagi menjadi Rp130 ribu per bulan. Dan, pada pencabutan subsidi tahap III (sudah tidak ada subsidi), Mei-Juni 2017, tagihan bayar listrik 900 Watt menjadi Rp185.794 per bulan. Namun, untuk pelanggan rumah tangga 900 VA yang termasuk miskin dan tidak mampu, masih tetap menggunakan tarif listrik subsidi, yaitu tetap Rp586 per kWh.

Tarif Dasar Listrik PLN

Ilustrasi: penggunaan listrik (sumber: cermati.com)

Ilustrasi: penggunaan listrik (sumber: cermati.com)

Golongan PelangganTarif Dasar Listrik
Rumah tangga 450 Watt subsidiRp415 per kWh
Rumah tangga 900 Watt tidak mampuRp586 per kWh
Rumah tangga 900 Watt mampuTR (Tegangan Rendah) : Rp1.467,28 per kWh
TM (Tegangan Menengah) : Rp1.114,74 per kWh
TT (Tegangan Tinggi) : Rp996,74 per kWh
Layanan Khusus : Rp1.644,52 per kWh

13 Golongan Pelanggan dengan Tarif Tanpa Subsidi

  • R1 atau rumah tangga kecil di tegangan rendah, daya 900 VA Rumah Tangga Mampu (RTM).
  • R1 atau rumah tangga kecil di tegangan rendah, daya 1300 VA.
  • R1 atau rumah tangga kecil di tegangan rendah, daya 2200 VA.
  • R1 atau rumah tangga menengah di tegangan rendah, daya 3500 s/d 5500 VA.
  • R3 atau rumah tangga besar di tegangan rendah, daya 6600 VA ke atas.
  • B2 atau bisnis menengah di tegangan rendah, daya 6600 VA s/d 200 kVA.
  • B3 atau bisnis besar di tegangan rendah, daya di atas 200 kVA.
  • P1 atau kantor pemerintah di tegangan rendah, daya 6600 VA s/d 200 kVA.
  • I3 atau menengah di tegangan menengah, daya di atas 200 kVA.
  • I4 atau industri besar di tegangan tinggi, daya 30 MVA ke atas.
  • P2 atau kantor pemerintah di tegangan menengah, daya di atas 200 kVA.
  • P3 atau penerangan jalan umum di tegangan rendah.
  • L atau layanan khusus‎.
Biaya Pemakaian Listrik Bulanan PLN - riftom.info

Biaya Pemakaian Listrik Bulanan PLN - riftom.info

Meski tidak mengalami kenaikan, namun masyarakat Indonesia tetap disarankan untuk lebih hemat dalam menggunakan peralatan rumah tangga yang memakai tenaga listrik. Mereka pun disarankan untuk mengetahui cara menghitung pemakaian listrik agar dapat memperkirakan biaya listrik yang telah digunakan.

Rumusan pemakaian listrik adalah ukuran daya alat atau peralatan listrik (dalam Watt) dikalikan lama pemakaian (jam) per hari dan akan dihasilkan satuan Watt/jam. Kemudian, angka ini dibagi seribu (untuk dijadikan satuan kilo Watt jam atau kWh), lalu dikalikan dengan harga tarif tenaga listrik yang berlaku saat itu, rupiah per kWh-nya.

Misalnya, dalam suatu simulasi, pelanggan PLN dengan tarif atau daya RM1 atau 900 VA () menggunakan setrika listrik dengan daya 350 Watt, dengan pemakaian sehari selama 3 jam, maka hitungan pemakaian dalam 1 bulan adalah 350 Watt x 3 jam = 1.050 Watt/jam atau 1,050 kWh. Jadi, pemakaian dalam sebulan adalah 1,050 kWh x 30 hari yaitu 31,5 kWh.

Nah, tarif listrik bisa dihitung dengan jumlah pemakaian kWh dikalikan harga per kWh, yaitu 31,5 kWh x Rp1.467,28 = Rp46.219,32. Catatan, harga per kWh tersebut diambil dari data harga tarif dasar listrik bulan Juli untuk tarif 900 VA RTM tegangan tinggi sebesar Rp1.467,28. Jika ada beberapa alat, maka bisa dihitung terperinci sesuai ukuran alat dan lama waktu pemakaiannya, kemudian dijumlah keseluruhan.

Contoh lainnya adalah televisi dengan daya 0,8 Ampere, 220 Volt yang dioperasikan selama 12 jam sehari. Nilai daya dalam satuan Watt untuk 0,8 Ampere adalah 0,8 Ampere x 200 Volt, yaitu 176 Watt. Maka, biaya pemakaian daya televisi 0,8 Ampere dengan rata-rata pemakaian selama 12 jam sehari adalah (176 Watt : 1.000 x 12 jam) x Rp1.467,28 = (0.176 kWh x 12 jam) x Rp1.467,28 = 2,11 kWh x Rp1.467,28 = Rp3.095,96 (dibulatkan menjadi Rp3.096). Nah, pemakaian sebulan menjadi Rp3.096 x 30 = Rp92.880 per bulan.

[Update: Almasshabur]

Baca juga  Terbaru, Biaya Isi Ulang Freon AC (R22, R32, R410)
loading...
author
Sudah lama lulus dari S-1 di kampus PTN ternama. Penyuka musik dan sedikit audiophile.

Leave a reply "Update Cara Menghitung Biaya Pemakaian Listrik Bulanan PLN"