Update Biaya Transfer dan Administrasi BSI (Bank Syariah Indonesia)

Pada Februari 2021 kemarin, Indonesia resmi memiliki holding Bank Syariah Indonesia atau biasa disingkat BSI. Ini adalah kumpulan bank yang terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan saham sebesar 51,2 persen, BNI dengan saham 25 persen, BRI dengan saham 17,4 persen, DPLK BRI-Saham Syariah sebesar 2 persen, dan saham publik sebesar 4,4 persen. Meski tergolong baru, BSI menawarkan biaya transfer dan administrasi yang cukup bersaing dengan bank-bank yang lebih dulu eksis.

BSI/Bank Syariah Indonesia (sumber: republika)
BSI/Bank Syariah Indonesia (sumber: republika)

Walaupun baru booming dalam memasuki milenium ketiga, ternyata gagasan bank syariah di Indonesia sudah muncul sejak medio 1970-an silam, yang dibicarakan dalam seminar nasional Hubungan Indonesia-Timur Tengah pada 1974 serta seminar internasional yang diselenggarakan Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan (LSIK) dan Yayasan Bhineka Tunggal Ika pada tahun 1976.[1]

Bacaan Lainnya

Sayangnya, pada era tersebut, pendirian bank syariah belum terealisasi karena beberapa hal. Kemudian, memasuki dekade 1990-an, tepatnya tahun 1992, berdiri Bank Muamalat Indonesia sekaligus sebagai bank syariah pertama di dalam negeri. Kemudian, pemberlakuan UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan serta sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI/Peraturan Bank Indonesia semakin memperkuat landasan hukum bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia.[2]

Dalam operasionalnya, secara garis besar, perbankan syariah mirip dengan bank konvensional. Namun, perbankan syariah bertujuan untuk menggantikan sistem bunga pada bank konvensional dengan sistem bagi hasil yang sejalan dengan syariat Islam.[3] Meski demikian, konsep penerapan bagi hasil tersebut sangat bergantung pada penerapan konsep syariah pada operasional masing-masing bank.

Seiring waktu, perkembangan bank syariah di Indonesia semakin pesat. Jika pada tahun 1992 hingga 1999 hanya ada satu bank umum syariah, yakni Bank Muamalat Indonesia, maka pada periode tahun 2000 hingga 2003, berdiri Bank Syariah Mandiri atau BSM.[4] Kemudian, dalam rentang 2004 hingga 2014, disusul pendirian Bank Syariah Mega Indonesia, BRI Syariah, Bank Syariah Bukopin, BNI Syariah, BJB Banten Syariah, Bank Victoria Syariah, Bank Panin Syariah, BCA Syariah, Maybank Syariah Indonesia, dan BTPN Syariah.

Profil BSI (Bank Syariah Indonesia)

Pada awal 2021, tepatnya Februari, berdiri Bank Syariah Indonesia atau BSI, yang merupakan hasil merger anak perusahaan BUMN perbankan, termasuk Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Sebelumnya, BSI sudah mendapatkan izin beroperasi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dengan Nomor SR-3/PB/1/2021 tertanggal 27 Januari 2021.

Meski tergolong baru, BSI disebut-sebut bakal menjadi top ten bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam jangka waktu lima tahun sejak berdiri. Pasalnya, merupakan hasil merger tiga bank syariah terkenal Tanah Air, BSI sudah dapat dikatakan sebagai bank syariah di Indonesia. Bahkan, ketika pertama kali beroperasi, bank ini sudah menempati peringkat ke-7 di Indonesia berdasarkan total aset, yakni sebesar Rp240 triliun.

Produk Tabungan BSI

Ilustrasi: nasabah Bank Syariah Indonesia (sumber: republika)
  • Tabungan Easy, adalah tabungan yang menawarkan banyak kelebihan, seperti gratis biaya administrasi serta bebas biaya transaksi di seluruh EDC bank di Indonesia.
  • Tabunganku, adalah tabungan perorangan dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh bank-bank di Indonesia guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  • Tabungan Mabrur, adalah tabungan dalam mata uang rupiah untuk membantu pelaksanaan ibadah haji dan umrah.
  • Tabungan Pensiun, adalah tabungan yang diperuntukkan bagi nasabah perorangan yang terdaftar di Lembaga Pengelola Pensiun yang telah bekerja sama dengan bank.
  • BSI Giro, adalah sarana penyimpanan dana dalam mata uang rupiah untuk kemudahan transaksi dengan pengelolaan berdasarkan prinsip wadi’ah yad dhamanah.

Biaya Administrasi BSI

Jenis Tabungan BSI Biaya Administrasi
Tabungan Easy Wadi’ah Gratis
Tabungan Easy Mudharabah Rp10.000 per
Tabunganku Gratis
Tabungan Mabrur Gratis
Tabungan Pensiun Gratis
BSI Giro Rp15.000 per bulan (tanpa ATM)
Rp17.000 per bulan (dengan ATM)
Ilustrasi: layanan Bank Syariah Indonesia (sumber: medcom)

Biaya Transfer BSI

Transaksi Biaya Transfer
ATM BSI Gratis
ATM Mandiri Rp6.500
ATM Bersama Rp6.500
ATM Prima Rp6.500

Daftar biaya administrasi dan transfer di atas kami rangkum dari situs resmi BSI. Perlu Anda catat bahwa biaya transaksi tersebut tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Meski demikian, hingga saat ini, biaya administrasi BSI terpantau tidak mengalami perubahan.  untuk Tabungan Easy, BSI juga menyediakan fasilitas e-channel dengan biaya administrasi gratis untuk BSI Mobile, Rp2.500 per untuk BSI Net Banking, dan Rp500 per SMS untuk BSI Notifikasi. Jika membutuhkan info lebih detail, bisa menghubungi BSI Call 14040.

Program BSI Go Global

Seperti dilansir Kompas, BSI baru-baru ini bekerja sama dengan Bank-bank di Uni Emirat Arab. Beberapa institusi keuangan global yang digandeng BSI di antaranya Abu Dhabi Islamic Bank, Bank Islam Brunei Darussalam Berhad, Standard Chartered Bank, dan Maybank Islamic Berhad. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu strategi mewujudkan visi perusahaan menjadi Top 10 Global Islamic Bank dan aspirasi Indonesia sebagai pusat ekonomi Islam dunia.

Sebagai bagian dari bank syariah global, BSI perlu memiliki eksistensi internasional untuk dapat berinteraksi secara langsung dan dekat dengan para pelaku perbankan global. Di dalam negeri, BSI berupaya menjalankan perannya sebagai market penetration leader sekaligus pionir perbankan syariah. Hadirnya BSI yang memiliki aset lebih dari 200 triliun akan memberikan batu loncatan bagi bank syariah lain untuk mempersiapkan dan mendorong inovasi menghadapi situasi yang penuh dengan ketidakpastian.

[Update: Ditta]

[1] Nofinawati. 2015. Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia. JURIS, Vol. 14(2): 167-183.

[2] Ibid.

[3] Vebitia dan Bustaman. 2017. Analisis Preferensi Masyarakat terhadap Prinsip Bagi Hasil pada Bank Syariah di Wilayah Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi Universitas Syiah Kuala, Vol. 2(1): 98-107.

[4] Nofinawati. Op cit.

Pos terkait