Update Biaya Operasi Cabut Gigi Bungsu (Odontektomi) di Rumah Sakit

Masalah gigi ternyata tidak cuma berlubang. Saat usia Anda menginjak 18 tahun, kemungkinan gigi bungsu Anda akan tumbuh. Beberapa orang ada yang beruntung lantaran gigi bungsu mereka tumbuh secara alami dan tanpa menyebabkan rasa sakit. Namun, sebagian yang lain harus mengalami nyeri tidak tertahankan, apalagi jika pertumbuhannya kurang sempurna. Nah, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencabut gigi bungsu atau metode odontektomi. Bisa dilakukan di banyak rumah sakit, biaya odontektomi memang lumayan, bisa mencapai jutaan rupiah.

Ilustrasi: prosedur operasi gigi bungsu
Ilustrasi: prosedur operasi gigi bungsu

Apa Itu Gigi Bungsu?

Jika Anda belum paham, gigi bungsu, seperti namanya, adalah gigi geraham terakhir yang terletak paling belakang. Gigi geraham bungsu umumnya tumbuh ketika seseorang menginjak usia remaja atau dewasa, yaitu sekitar usia 17 hingga 25 tahun. Sebagai gigi yang keluar paling akhir, dilansir dari Alodokter, terkadang gigi bungsu tidak mendapat ruang yang cukup untuk tumbuh dan keluar dari gusi. Kondisi ini akhirnya menyebabkan gigi bungsu tidak tumbuh atau keluar dengan sempurna (impaksi). Akibatnya, gigi tersebut hanya keluar sebagian atau bahkan tidak keluar sama sekali.

Bacaan Lainnya

Masih menurut referensi yang sama, gigi bungsu sebenarnya normal dan akan mengalami erupsi (tumbuh dan keluar) seiring dengan pertambahan usia. Namun, jika ruang di rongga mulut tidak cukup, adanya hambatan atau halangan di area seharusnya gigi bungsu erupsi, atau posisi gigi bungsu yang tidak normal, akan terjadi impaksi gigi bungsu. Gigi impaksi sendiri dapat terjadi pada gigi-gigi lain, tetapi frekuensi tertinggi ditemukan pada molar ketiga bawah dan atas, diikuti gigi kaninus atas, gigi premolar bawah, dan gigi berlebih.[1]

Gigi bungsu impaksi dapat terjadi tanpa gejala atau hanya menimbulkan rasa nyeri tumpul pada rahang, yang menyebar sampai ke leher, telinga, dan daerah temporal (migrain). Hal itu terjadi akibat penekanan gigi pada nervus alveolaris inferior yang terletak di dekatnya. Gigi impaksi yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti karies dentis, infeksi, dan bahkan pembentukan kista dan tumor.[2]

Orang seringkali tidak menyadari bahwa dirinya memiliki gigi bungsu yang impaksi totalis maupun parsialis karena asimtomatik, tidak ada gejala sama sekali. Banyak pasien terkejut ketika diberitahu memiliki gigi impaksi, tetapi merasa tidak memerlukan tatalaksana. Namun sebenarnya, tatalaksana diperlukan untuk mengantisipasi apakan gigi tersebut akan mampu erupsi secara sempurna atau tidak.

Metode Odontektomi

Tindakan bedah yang dilakukan tergantung pada jenis kasus, mulai dari tindakan sederhana seperti operkulektomi dengan kauter, yaitu pengangkatan operkulum yang menutupi gigi yang diprediksi dapat muncul ke permukaan gingiva. Sementara itu, tindakan yang radikal adalah odontektomi, yakni pengangkatan gigi impaksi dengan pembedahan.[3]

Ilustrasi: hasil foto rontgen gigi

Pada beberapa pasien, ketika mengetahui memiliki gigi bungsu impaksi, secara spontan menghendaki odontektomi walaupun tanpa keluhan. Hal tersebut ditujukan untuk menghindari kemungkinan komplikasi yang mungkin timbul kelak. Tindakan profilaksis tersebut dikenal dengan odontektomi preventif.[4] Pasien harus dirawat inap dan diberikan premedikasi seperlunya pada pra-bedah dan saat pemulihan pasca-bedah.

Odontektomi dengan anestesi lokal dapat dilakukan pada pasien yang kooperatif dan cukup dirawat jalan. Namun, pada pasien dengan tingkat ansietas tinggi, diberikan anestesi lokal ditambah sedasi sadar, atau dengan anestesi umum. Anestesi umum khususnya diberikan pada impaksi yang sangat sulit atau pada pasien yang tidak kooperatif, seperti penderita mental.

Sebenarnya, odontektomi lebih mudah dilakukan pada pasien usia muda saat mahkota gigi baru saja terbentuk, sementara apeks gigi belum sempurna terbentuk. Jaringan tulang sekitar juga masih cukup lunak sehingga trauma pembedahan minimal, tidak mencederai nervus atau jaringan sekitar. Sementara itu, odontektomi pada pasien berusia di atas 40 tahun, tulangnya sudah sangat kompak dan kurang elastis, juga sudah terjadi ankilosis gigi pada soketnya, menyebabkan trauma pembedahan lebih besar, dan proses penyembuhan lebih lambat.

Meski demikian, odontektomi kadang-kadang perlu dilakukan pada dewasa tua, misalnya bila gigi impaksi tersebut diperkirakan akan mengganggu stabilisasi gigi tiru yang akan dipasang. Selain itu, spesialis bedah mulut kadang-kadang menerima rujukan pasien dari spesialis ortodonsi agar mencabut gigi bungsu yang impaksi. Tindakan itu dimaksudkan agar gigi geligi yang akan maupun yang sudah diatur posisinya tidak kembali malposisi karena desakan gigi yang impaksi.

Komplikasi Odontektomi

Odontektomi tergolong minor surgery, tetapi tetap mengandung risiko. Komplikasi dapat timbul pada saat dan setelah pembedahan akibat faktor iatrogenik. Odontektomi dengan tingkat kesulitan yaitu pada gigi impaksi totalis yang terletak dalam, harus diperhitungkan oleh operator sejak awal berdasarkan gambaran foto dental dan atau panoramik. Saat pembedahan, dapat terjadi fraktur akar, gigi molar kedua goyah, trauma pada persendian temporomandibular, akar terdorong ke ruang submandibula, bahkan fraktur angulus mandibula.

Ilustrasi: masalah gigi bungsu (sumber: uinjkt.ac.id)

Komplikasi lain adalah cedera nervus alveolaris inferior, yang mengakibatkan parestesia labial inferior sampai dagu pada sisi yang sama. Parestesia dapat bersifat sementara maupun permanen, tergantung pada besarnya rudapaksa terhadap saraf tersebut. Cedera dapat terjadi sekaligus, mengenai arteri dan vena alveolaris inferior yang berjalan sejajar dengan nervus tersebut, yang dapat menimbulkan perdarahan hebat.

Perawatan Pasca-Odontektomi

Pengobatan medikamentosa dilakukan dengan pemberian antibiotik, anti-inflamasi, dan analgetik untuk membantu mengatasi berbagai komplikasi tersebut. Antibiotik golongan penisilin tetap merupakan obat pilihan. Namun, bila uji kulit positif, diberikan klindamisin dengan dosis 3 x 300 mg selama 3-5 hari.[5] Untuk penghilang nyeri ringan, biasanya cukup diberikan tablet ibuprofen 400 sampai 800 mg atau asetaminofen 500 mg dengan dosis 3 sampai 4 kali sehari selama 2-3 hari.

Agar lebih efektif, sebaiknya obat langsung diminum segera setelah tindakan bedah karena diperlukan waktu sekitar satu jam untuk mendapatkan efek maksimal obat. Sementara, pada odontektomi berat, untuk nyeri sedang sampai berat, diberikan analgetik ideal, yaitu dikombinasikan dengan penambahan tablet codein 15 sampai 30 mg.

Jika Anda ingin mencabut gigi bungsu Anda, saat ini tidak sulit melakukan operasi odontektomi. Pasalnya, sudah banyak rumah sakit dan klinik gigi yang menyediakan metode pembedahan tersebut. Biaya yang dipatok bervariasi, tergantung tingkat keparahan penyakit dan kebijakan masing-masing instansi kesehatan. Sebagai referensi, berikut informasi terbaru biaya cabut gigi bungsu saat ini.

Biaya Cabut Gigi Bungsu (Odontektomi)

Ilustrasi: operasi gigi (sumber: fusiondentalcare.com)
Nama Rumah Sakit/Klinik Gigi Kisaran Biaya Odontektomi
RSKGM Kota Bandung Odontektomi Tingkat I : Rp480.000 per gigi
Odontektomi Tingkat II : Rp780.000 per gigi
Odontektomi Tingkat III : Rp1.050.000 per gigi
FD Care Serpong Rp1.662.500
Eka Hospital Pekanbaru Rp1.725.000
Global Doctor Indonesia Jakarta Rp3.000.000
OMDC Dental Clinic Jakarta Rp4.300.000
Eka Hospital Rp4.830.000
Siloam Hospital Purwakarta Kelas 3 : Rp7.000.000
Kelas 2 : Rp8.000.000
Kelas 3 : Rp9.000.000

Biaya cabut gigi bungsu di atas kami rangkum dari berbagai sumber, termasuk keterangan pihak rumah sakit dan klinik yang bersangkutan. Perlu Anda catat bahwa biaya prosedur odontektomi tersebut tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya, biayanya sekitar Rp2 juta untuk kelas I, Rp2,5 juta untuk kelas II, dan Rp3 juta hingga Rp5 juta untuk kelas III.

[1] Rahayu, Sri. 2014. Odontektomi, Tatalaksana Gigi Bungsu Impaksi. E-Journal WIDYA Kesehatan dan Lingkungan, Vol. 1(2): 81-89.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Friedman, J. W. 2007. The Prophylactic Extraction of Third Molars: A Public Health Hazard. Am J Public Health, Vol. 97, hlm. 1556.

[5] Rahayu, Sri. Op cit.

Pos terkait